
Di tengah zaman yang riuh, kita sering merindukan tokoh seperti Semar.
Ia bukan raja.
Bukan ksatria tampan.
Bukan pula panglima yang berdiri di depan pasukan.
Semar hanyalah punakawan. Wajahnya sederhana. Tubuhnya tidak gagah. Bicaranya sering lucu, kadang polos, tetapi justru dari mulutnya keluar suara yang paling jernih.
Dalam pewayangan, Semar adalah pengingat. Ia hadir ketika para ksatria mulai silau oleh kekuasaan, ketika para pemimpin terlalu sibuk dengan strategi, ketika manusia pintar lupa menjadi bijaksana.
Dan rasanya, hari-hari ini kita membutuhkan Semar.
Saat ruang publik penuh kegaduhan, saat media sosial mudah menjadi tempat saling menyalahkan, saat ekonomi membuat banyak orang cemas, bahkan rupiah sempat tertekan hingga Bank Indonesia harus melakukan intervensi besar untuk menstabilkannya, kita butuh suara yang tidak ikut memperkeruh keadaan. 
Semar mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak selalu datang dari podium tinggi. Kadang ia datang dari orang kecil yang tetap waras. Dari orang sederhana yang berani berkata benar tanpa merasa paling benar.
Semar tidak menggurui. Ia menegur dengan humor. Ia menampar tanpa melukai. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kerendahan hati akan berubah menjadi kesombongan. Kepintaran tanpa kasih akan berubah menjadi kelicikan. Dan keberanian tanpa nurani akan berubah menjadi kekerasan.
Di zaman ketika banyak orang ingin terlihat hebat, Semar memilih berguna.
Ia tidak sibuk membangun citra. Ia menjaga arah. Ia tidak perlu menjadi pusat cerita, tetapi tanpa dirinya, cerita bisa kehilangan makna.
Mungkin inilah pesan hari Minggu kemarin: sebelum kita sibuk menilai negeri, pemimpin, keadaan, dan orang lain, kita perlu memeriksa Semar kecil dalam diri kita sendiri.
Masih adakah suara sederhana yang menahan kita agar tidak ikut membenci?
Masih adakah kelucuan yang menyelamatkan kita dari kepahitan?
Masih adakah keberanian untuk berkata benar, meski tidak disukai?
Sebab bangsa tidak hanya diselamatkan oleh orang besar.
Kadang bangsa diselamatkan oleh orang-orang sederhana yang tetap menjaga hati, menjaga akal sehat, dan menjaga kemanusiaan.
Semar mengingatkan kita:
Jangan sampai hidup menjadi terlalu ramai, tetapi batin kehilangan arah.
Jangan sampai kita menang berdebat, tetapi kalah menjadi manusia.
Mari menjadi Semar kecil di tempat kita masing-masing: sederhana, jernih, tidak bising, tetapi diam-diam menjaga kewarasan.
www.deneff.my.id