Keesokan paginya, Darma menemukan sehelai rambut putih jatuh di wastafel.
Ia memungutnya.
Pendek.
Ringan.
Nyaris tidak berarti.
Tetapi entah mengapa ia menatapnya cukup lama.
Istrinya lewat di depan pintu kamar mandi.
“Ngapain rambut saja dipandangi?”
Darma tersenyum.
“Sedang menghitung masa depan yang tersisa.”
Istrinya tertawa.
“Kalau begitu jangan pakai rambut. Nanti hitungannya kurang akurat.”
Darma ikut tertawa.
Pagi itu terasa sederhana.
Dan justru karena sederhana, terasa indah.
Malamnya, setelah pukul delapan.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
Darma langsung berkata,
“Mpu, rambut putih ini tanda apa?”
Mpu Sabak memandang rambut itu.
“Tanda bahwa tubuhmu jujur.”
“Jujur?”
“Ya. Tubuh tidak pandai berpura-pura muda seperti hati manusia.”
Darma tertawa kecil.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Jangan malu pada rambut putih.”
“Malulah kalau usia bertambah, tetapi kebijaksanaan tidak ikut tumbuh.”
Darma menunduk.
Di halaman kosong itu, hanya satu baris yang muncul:
“Usia tidak otomatis membuat manusia bijaksana.
Ia hanya memberi kesempatan lebih panjang untuk belajar.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Dan kesempatan, Darma, tidak boleh disia-siakan.”
Di luar, malam pelan-pelan turun.
Di dalam dirinya, Darma mulai berdamai dengan sesuatu yang tak mungkin ia lawan:
waktu.