preloader

“Jika Anda
melihat seseorang tanpa senyumnya, berikan kepadanya sedikit senyum yang Anda
miliki.”
(Psychology Today Magazines)
Dalam perbincangan di masyarakat luas, banyak orang
membuat analisa tentang rahasia kesehatan dan panjangnya umur mantan Presiden
R.I. Soeharto, dan hasilnya mengerucut pada satu kesimpulan, yaitu karena
beliau selalu tersenyum disetiap penampilannya.
Memang belum sepenuhnya benar untuk mengklaim bahwa
rahasia umur dan kekuasaannya yang panjang seseorang hanya disebabkan oleh
senyuman. Satu hal yang jelas, Soeharto memang terbiasa memperlihatkan senyum
dalam setiap penampilannya, sampai sulit diinterpretasikan maknanya. Dan,
senyuman mantan Presiden R.I. ini mempunyai kesamaan dengan senyuman misterius
lukisan Monalisa, karya Da Vinci yang juga bisa memunculkan bermacam
penafsiran.
Dan terlepas apakah senyuman itu tulus atau pura-pura,
jika mengacu pada hasil riset para ahli, diketahui bahwa sistem kekebalan tubuh
beliau selalu meningkat berkat senyuman yang diperlihatkannya.
Menurut Patch Adams 
Doktor Kesehatan yang hidup di West Virginia, Amerika Serikat mengatakan,
“jika seseorang sedang tersenyum, otaknya
mengeluarkan seretonin yang berfungsi meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.”

Pendapat Patch Adams tentang senyuman kemudian menjadi populer di bidang
penyembuhan penyakit
Bagaimana dengan orang yang sedang tidak dalam kondisi
bahagia, ketika tersenyum? Otak orang tersebut akan mengeluarkan sejumlah zat
kimia yang tidak hanya meningkatkan sistem kekebalan tubuh saja, tetapi
sekaligus bisa mengangkat dan meringankan kondisi psikologis orang tersebut.
Pendapat itu berlaku bagi orang yang tersenyum karena terpaksa atau tersenyum
hanya pura-pura bahagia, khasiatnya sama dengan orang yang sungguh-sungguh
tersenyum. Apapun jenis senyumannya, orang yang melakukannya dapat membuat
dirinya menjadi lebih sehat dan bahagia, dan juga bisa membuat proses penuaan
seseorang menjadi terhambat.
”Jadi, senyum
adalah antibody paling spektakuler bagi rahasia kekebalan tubuh Anda, untuk itu
jangan sia-siakan!

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *