preloader

Semalam saya bersama istri menemani anak lelaki saya nonton Konser Piano Duet dari Belanda, Wyneke Jordans dan Leo van Doeselaar. Seperti pementasan yang sudah sering diselenggarakan oleh Erasmus Huis dan Yayasan Pendidikan dan kebudayaan Indonesia – Belanda selalu dipadati oleh para penggemar musik klasik.

Yang menarik dalam pementasan semalam adalah Piano dimainkan berdua oleh mereka. Setelah MC mengundang mereka untuk naik ke atas pentas, keduanya langsung tancap gas memainkan komposisi “Toccata en Fuga in D BWV 565”, karya Johann Sebastian Bach 1685-1750, yang diolah untuk piano duet oleh Max Reger.

Komposisi kedua mereka mainkan dari karya Franz Schubert (1797-1828) yang berjudul “Rondo in A, op 107, D.951.” Komposisi yang berirama rancak ini dimainkan sangat memukau.

Kedua lagu tersebut membuka konser semalam dengan sangat indah, dan bahasa tubuh mereka menjadi hiburan tersendiri. Namun agak disayangkan, permainan menawan dari dua pianis tersebut agak terganggu oleh bunyi kamera para wartawan yang meliput acara tersebut, dan satu bunyi dering handphone undangan terdengar agak mengganggu. Untung untuk lagu-lagu berikutnya sudah tidak terjadi lagi.

Setelah memainkan dua buah komposisi tersebut, baru Leo Van Doerselaar menyapa audiensnya dan bertutur tentang komposisi yang mereka mainkan. Ada yang menarik yang dikatakannya, walaupun hanya dua kata saja dalam bahasa Indonesia, yaitu: “selamat malam dan terima kasih, mudah-mudahan tidak menjadi masalah dalam berkomunikasi”, ujarnya yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan hadirin yang memenuhii ruang Multifunction Hall Plaza Tunjungan Surabaya kemarin.

Penikmat musik klasik di Surabaya ternyata cukup banyak, kalau saya tidak salah menghitung, mereka yang hadir kemarin malam kurang lebih 400 orang. Diantara yang hadir ada Om Bubi Chen pianis kebanggaan kita, Bapak Solomon Tong – Conductor Surabaya Symphony Orchestra, para guru musik yang ada di Surabaya.

Komposisi berikutnya, duo pianis tersebut berturut-berturut memainkan komposisi Thema met Variaties in As, po.17” (1878), karya Julius Rontgen (1855-1932), lalu komposisi “Uit Traumblatter” (2007), karya Robert Nasveld (1955), kemudian “ 3 Legenden, op 59 (1881)”, karya Antonin Dvorak (1841-1904), mengakhiri sesi pertama penampilan mereka.

Dalam komposisi “Uit Traumblatter” merupakan komposisi spesial bagi Wyneke Jordans dan Leo Van Doerselaar, karena diciptakan oleh Robert Nasveld khusus buat mereka berdua.

Setelah jeda, mereka melanjutkan permainan piano duet tersebut dalam komposisi “Uit L’Enfant et Les Sortileges (1920-1925), karya Maurice Ravel (1875-1937), dilanjutkan komposisi “Uit “Façade” (1926 & 1938), karya William Walton (1902-1983), dan terakhir Rhapsody in Blue (1923), karya George Gershwin (1898-1937) dimainkannya dalam alunan ringan, namun rancak.

Permainan piano dari deret komposisi tersebut merupakan gabungan nuansa zaman baroque hingga modern. Misalnya, komposisi “3 Legenden, op 59” yang dimainkan dengan tempo agak cepat, sedang, dan cepat tersebut merupakan komposisi zaman romantik. Dari masa modern, duet pianis yang sudah memiliki nama di belantika musik Eropa tersebut memainkan karya George Gershwin, Rhapsody in Blue, yang mengalun ringan, namun rancak.

Walaupun mereka hanya bisa mengucapkan kata “selamat malam” dan “terima kasih” saja dalam bahasa Indonesia, namun bahasa musik mampu dimengerti dan dinikmati oleh siapa saja. Termasuk saya yang tidak paham betul tentang musik klasik, tapi bisa menikmati keindahannya.

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *