preloader

Hampir dapat dipastikan perhatian seluruh dunia akhir-akhir ini tersedot ke Amerika, karena ada pesta demokrasi terbesar di dunia, yakni Pemilihan Presiden. Fenomena ini sangat menarik, sebab siapa pun yang terpilih sebagai presidennya, bakal dikultuskan sebagai presiden bagi seluruh dunia. Mengapa demikian? Karena kebijakannya akan sangat mempengaruhi dinamika politik dan ekonomi dunia.

Perebutan presiden Amerika kali ini begitu fenomenal, mengingat Amerika sedang dilanda krisis keuangan yang sangat besar yang gelombangnya mengimbas pada negara-negara lain. Rakyat Amerika menginginkan segera terjadi perubahan, agar mereka cepat keluar dari krisis finansial tersebut. Demikian juga negara-negara lain yang menjalin relasi bisnis dengan negara adidaya tersebut, sangat berharap terjadinya perubahan itu segera supaya penderitaan ekonomi global tidak berlangsung lama.

Sehari sebelum pemungutan suara di Amerika Serikat, di Jawa Timur tanggal 4 Nopember 2008 dilaksanakan pesta PILKADA putaran kedua untuk memilih Gubernur baru. Yang menarik bagi saya bukanlah siapa yang menang dan berhak memimpin, tapi seberapa besar yang tidak memanfaatkan hak Pilihnya. Dan, hasil penghitungan cepat (quick count) warga yang tidak menggunakan Hak Pilihnya alias GOLPUT versi Lingkaran Survei Indonesia adalah 46%, sedangkan versi Lembaga Survei Indonesia mencatat sebesar 45,56%. Sedangkan di Amerika, warga yang tidak menggunakan Hak Pilihnya hanya mencapai 10%.

Jika rakyat Amerika sangat antusias memanfaatkan kesempatan memilih pemimpinnya, tapi mengapa PILGUB di Jawa Timur terjadi sebaliknya? Mengapa terjadi perbedaan yang sedemikian jauh?

Beberapa perusahaan di Jawa Timur sengaja meliburkan karyawannya untuk memberikan kesempatan kepada mereka dalam menyalurkan aspirasinya untuk memilih Gubernur yang baru. Namun, kenyataan di lapangan adalah kebanyakan dari mereka tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggunakan Hak Pilihnya. Sebagai buruh urban, mereka tidak punya anggaran belanja untuk ongkos pulang ke daerah, apalagi mereka kehilangan uang makan karena perusahaan diliburkan. Mereka memilih untuk tetap tinggal di kota adalah pilihan yang realistis. Kisah diatas adalah satu diantara sekian banyak fenomena yang terjadi di masyarakat kita.

Jika setiap orang mengharapkan terjadinya perubahan untuk kesejahteraan hidupnya, bukankah memilih pemimpin baru adalah sebuah cara mewujudkan harapan?

Harapan adalah impian tentang masa depan, yang selalu dinyanyikan dalam kampaye. Tapi, untuk siapakah sebenarnya lagu tersebut dinyanyikan? Apakah benar untuk rakyat?

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *