preloader

Di zamannya, penyair kondang William Shakespeare pernah berbicara tentang kemiskinan dan keadilan dalam karya dramanya yang berjudul King Lear.

Lear adalah seorang raja di zaman Inggris kuno yang memiliki tiga anak perempuan. Putri pertama bernama Goneril, putri kedua bernama Regan, dan putri bungsunya bernama Cordelia. Karena usianya, Raja Lear memutuskan untuk turun tahta, ketika usianya sudah mencapai lebih dari 80 tahun, dan membagikan daerah kekuasaanya pada tiga orang putrinya.
Untuk membagikan wilayah kekuasaannya kepada para putrinya, Lear mensyaratkan tentang seberapa besar cinta ketiga putrinya pada sang raja. Lalu, Lear mengumpulkan mereka dan meminta mereka untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sang ayah. Goneril dan Regan, dengan kata-katanya yang bersayap dan sangat indah, keduanya berhasil meyakinkan sang Raja, bahwa mereka amat mencintai dirinya. Berbeda dengan putri ketiganya, Cordelia tidak mau melakukan hal tersebut. Cordelia akhirnya tidak mendapat secuil pun wilayah kekuasaan dan bahkan dibuang ke Prancis.
Dalam kisah diceritakan bahwa kedua putrinya mengkhianitinya. Dan raja pun jadi sinting. Lear pun pergi meninggalkan istananya tanpa membawa satu pun barang berharga, hidup menggelandang, menadah topan dan hujan. Hidup yang tak berbelas itu membuatnya teringat kepada mereka yang bugil dan nestapa, yang menantang beringasnya badai, yang tak memiliki tempat untuk meletakkan kepalanya, dan perut yang sering tak disambangi roti. Lalu ia pun berseru, agar yang berkelimpahan diguncang, hingga sedikit kelimpahannya tertadah oleh mereka yang miskin, untuk menunjukkan bahwa langit adalah adil.
Di zaman kita sekarang pun, kisah Inggris kuno masih tetap saja berulang. Banyak yang menganggap dirinya raja, tapi tak pernah tahu, dan pura-pura tidak tahu adanya penderitaan, adanya penindasan, dan adanya nestapa-nestapa yang lain. Mereka tidak peduli. Mereka hanya peduli kepada komunitas akar rumput, ketika tenggat waktu yang membatasi kekuasaannya mengancam dirinya. Itu pun hanyalah angin sorga yang dinyanyikan, yang membawa hambanya terperangkap kembali dalam penderitaan-penderitaan baru.
Hampir semua pesta selalu saja menyisakan kisah. Hari ini, puncak pesta rakyat digelar; kita akan memilih penguasa baru, dan kepadanyalah rakyat bakal menguasakan nasib seluruh sendi-sendi kehidupannya.
Dalam alam demokrasi, rakyatlah sejatinya sang raja itu. Maka, janganlah sampai sebagai raja, rakyat hanya terpukau oleh keindahan retorika, dan kemerduan kata-kata yang bersayap semata para calon penguasa. Sebab, sebagai raja, rakyat tidak hanya sekedar akan kehilangan tahta, tapi akan kehilangan hak untuk hidup sejahtera dan berkeadilan.Pengalaman hidup menggelandang Raja Lear, membukakan mata hatinya pada kemiskinan dan keadilan yang diderita para hambanya. Sehingga ia harus berseru, agar kelimpahan orang kaya diguncangkan supaya bisa dibagikan kepada hambanya yang kekurangan dan menderita. Negara harus bisa menghidupi rakyatnya dengan sejahtera dan adil.
Dalam drama King Lear, adegan di mana Edgar, Lear, dan Kent yang bersama-sama mencari tempat yang aman untuk berlindung dari badai merupakan salah satu adegan yang paling “mengguncangkan” dalam drama Shakespeare. Akankah terjadi demikian adegan dalam drama hidup berbangsa dan bernegara kita untuk lima tahun ke depan? Semoga tidak!
Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita semua, yang selalu memohon petunjuk dan perlindungan-Nya!

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *