preloader

“Senyum adalah perhiasan batin yang dapat membantu mengindahkan perhiasan lahir yang tidak sempurna.”

Terjadi kesalahkaprahan di masyarakat tanpa mengindahkan pertimbangan yang dalam untuk mendifinisikan arti “cantik/tampan” dalam menilai penampilan seseorang. Padahal sesungguhnya, sesuatu yang baik bagi diri kita belum tentu baik bagi orang lain, termasuk ukuran atau kriteria standar mengenai penampilan seseorang, yang mana pandangan mereka menganggap bentuk tertentu adalah “cantik/tampan”.

Mereka merumuskan, bahwa orang “cantik/tampan” haruslah mempunyai hidung yang mancung; mata yang besar, lebar dan jernih; bibir dengan ketebalan tertentu dianggap lebih sensual; kulitnya harus putih bersih; tubuhnya harus ramping langsing/atletis; rambutnya harus lurus.

Anggapan bahwa “cantik/tampan” adalah sesuatu yang sempurna, lalu membuat banyak orang – diseluruh dunia – berusaha untuk memiliki bentuk-bentuk tersebut.

Perkembangan dunia kedokteran yang semakin canggih, operasi plastik adalah alternatif tercepat untuk memenuhi harapan tersebut. Klinik kecantikan tumbuh dan berkembang dimana-mana untuk memuaskan keinginan sesaat, namun standar kecantikan/ketampanan fisik yang demikian akan memudar seiring bertambahnya usia seseorang, tapi tidak demikian dengan “senyum”, ia tidak akan pernah pudar (perhatikan gambar seorang nenek yang sedang tersenyum dibawah ini).

Bibir dan mata merupakan pusat perhatian pertama dari ekspresi wajah, yang mana “senyum” sebagai pemicunya. Dan menurut seorang pakar, “kesan yang baik” yang ditampilkan seseorang hanya memerlukan waktu 2 (dua) detik untuk menyimpulkan keramahannya.

Namun, kesederhaan senyum ternyata tidak sesederhana “ungkapan kata”nya untuk memaknainya. Dan berikut ini adalah kisah-kisah tentang terbentuknya senyuman.

Ikutilah kisah-kisah sederhana pada posting berikutnya, guna memahami berbagai macam “senyum”. Silakan menyimak dan memaknainya!

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *