preloader

Pada orang normal, tersenyum, tertawa dan menangis itu
sebetulnya suatu reaksi terhadap keadaan krisis, berupa suatu perubahan yang
tidak terduga. Kondisi itu bisa terjadi dalam keadaan yang mengagetkan,
menyenangkan, atau menyedihkan. Krisis itulah yang membuat orang bisa tersenyum,
tertawa atau menangis. Konkretnya, kalau Anda sedang serius mendengarkan
sesuatu, tahu-tahu hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Anda duga, Anda bisa tersenyum
bahkan mungkin tertawa terbahak-bahak. Kalau Anda merencanakan sesuatu yang diharapkan
hasilnya adalah baik, tapi kenyataannya gagal, maka Anda bisa menangis.
Ketika emosional seseorang mengalami sesuatu yang buruk
yang membuatnya tidak nyaman, karena dipicu oleh suatu kejadian, maka ritme
degup jantungnya bergejolak lebih kencang dari biasanya. Kejadian emosional
seperti itu membawa anggapan kita, bahwa berkecamuknya “gejolak hati”
itu terjadi di organ jantung kita. Benarkah Pandangan itu? Ternyata
keliru. 
Coba Anda mengingat kejadian yang pernah Anda alami
ketika Anda merasa “sakit hati” pada seseorang, maka “rasa
sakitnya” akan terasa menusuk-nusuk sampai ke “ulu hati”. Jika
demikian, hati itu ada dan hati itu dapat merasa sakit.  Tetapi, apakah soal letaknya di jantung atau
bukan, itu merupakan soal lain lagi.
Aspek-aspek emosi, termasuk tersenyum, tertawa dan
menangis, “diatur” oleh pusat emosi di dalam struktur otak yang
dinamakan sistem limbik (limbic system). Sistem yang juga berhubungan
dengan aspek-aspek tingkah laku tertentu ini bentuknya seperti lingkaran
sehingga oleh seorang ahli bernama Papez dinamai “lingkaran bergema.”
Papez menemukan hal ini, karena ketika intinya dirusak,
orang yang bersangkutan menunjukkan suatu emosi yang tidak tepat atau kacau.
Artinya, secara tidak sengaja orang tersebut bisa mudah marah, tetapi gampang
pula tertawa terbahak-bahak meski tidak ada yang lucu. Itu karena lingkaran
yang juga merupakan pusat emosi manusia itu terputus. Kalau salah satu bagian
dari lingkaran ini rusak, maka memori orang tersebut juga akan hilang. Itu juga
yang terjadi pada orang pikun, karena salah satu bagian lingkaran ini rusak.

PANDANGAN NEUROLOG
Para ahli arsitektur otak manusia (neurolog), menemukan
bahwa “data murni” (raw data) sebagai informasi murni semuanya
disimpan di suatu lokasi pada bagian Neo Cortex otak manusia. Letaknya di otak
kecil (Cerebellum) bagian otak yang dekat dengan tengkuk manusia.  Sedangkan data yang sudah terpolusi oleh
emosi (emotional data) tersimpan pada tempat lain di bawah otak besar
(Cerebrum) manusia yang namanya “buah badam” (amygdala) karena
bentuknya seperti sepasang buah badam.
Bila Anda membenci seseorang, maka “basic data”
tentang ciri-ciri fisik orang tersebut  disimpan dalam Neo Cortex. Sedang data tetang
rasa benci dan sakit hati Anda kepada orang tersebut disimpan Amygdala, bukan
disimpan di Neo Cortex.  Maka, setiap
kali Anda melihat (visual) atau mendengar (auditory) tentang orang tersebut,
maka informasi yang dikumpulkan melalui mata atau telinga Anda langsung
disalurkan ke Neo Cortex terlebih dahulu, lalu dari situ barulah diteruskan ke
Amygdala. Aliran data itu melaju  super cepat
dalam hitungan “nanodetik”, sementara jarak “Neo Cortex – Amygdala” hanya
beberapa sentimeter saja, sehingga reaksi yang Anda alami bisa dikatakan
langsung.  Begitu memikirkan orang yang
Anda benci, maka rasa marah, jengkel, benci dan sebagainya langsung memicu hormon adrenalin Anda.
Memikirkannya saja Anda akan langsung bereaksi negatif, apalagi bila Anda
sampai melihat atau mendengarnya.
Secara ilmiah, membuktikan bahwa perasaan atau gejolak hati
itu letaknya bukan di “hati” atau “jantung”, tetapi sebenarnya justru berada di
otak manusia itu sendiri. Lalu bagaimana dengan “jantung” berdebar-debar dan
“ulu hati” yang sakit? Reaksi itu hanyalah efek samping ketika Amygdala
memerintahkan bagian teknis lain dari otak manusia untuk memicu hormon
adrenalin di anak ginjal untuk mengeluarkan sekresi yang sesuai. Maka, otot
jadi tegang, raut muka jadi merah dan kaku, nada suara berubah jadi tinggi, dan
fenomena perubahan fisik lainnya juga ikut menyesuaikan perintahnya.
Bagaimana dengan emosional yang sebaliknya, misalkan bila
Anda membayangkan seseorang yang Anda cintai dan sayangi? Reaksi mekanismenya
sama, akan tetapi kali ini bukan “hormon adrenalin” yang dipicu tetapi hormon
sebaliknya yang bersifat sedatif (menenangkan atau menyenangkan).  Demikian juga dengan reaksi fisik Anda juga
berbeda dimana otot-otot menjadi kendur, urat
senyum Anda bereaksi
, nada suara Anda menjadi lebih lembut dan merdu, dan
membuat
perasaan menjadi tenang, tentram, nyaman dan bahagia
seterusnya.
PANDANGAN PSIKOLOG
R.B.Zajonc, seorang pakar psikologi dari
Universitas Michigan di Ann Arbor berpendapat bahwa ada unsur psikologi yang
dapat dihubungkan antara meluapkan “perasaan gembira” dengan “sifat mental yang
positif.” Bagian raut muka manusia mempunyai otot-otot, akan tetapi ada juga sebagian
orang yang tidak mempunyai kemampuan melebarkan rongga mulutnya, sehingga ada
kesulitan tersendiri untuk bisa tersenyum. Secara fungsional sebagian dari
otot-otot tersebut masih merupakan misteri.
Apakah bentuk air muka yang nampak diwajah seseorang
adalah wujud presentasi sebenarnya situasi emosional yang ada dalam pikirannya?
Sebagai contoh, dapatkah kita melemparkan senyuman untuk
menghilangkan rasa takut kepada musuh? Jika seseorang sedang menghadapi masalah
yang menekan dirinya, apabila ia mampu tersenyum, maka senyumnya dapat membuat
dirinya gembira dan melupakan masalah yang dihadapi atau akan punya kemampuan
untuk menyelesaikannya dengan tenang.
Secara ilmiah, darah akan mengalir kebagian otak dan muka
melalui saluran darah yang sama yaitu, arteri karotid. Apabila seseorang tersenyum
atau mengerut dahi, maka otot wajah yang melintasi bagian tulang rahang akan
menjadi tegang dan ia akan menyebabkan darah lebih banyak dipompakan ke bagian wajahnya.
Melalui proses ini, perubahan terjadi terhadap kadar darah yang disalurkan
melalui arteri karotid yaitu,  saluran
utama menuju ke otak. Keadaan ini akan melegakan perasaan seseorang. Teori ini
juga menjelaskan keadaan seseorang yang menjadi merah wajahnya. Keadaan ini
sebenarnya satu tindakan yang tidak sengaja. Orang yang menjadi merah wajahnya
sebenarnya ingin lari dari apa yang dialaminya.
Contohnya, perasaan malu. Ini terjadi apabila perjalanan
darah yang dipacu oleh sistem hormon adrenalin dalam badan telah dialirkan dari
otak ke saluran darah dibagian wajah hingga menyebabkan air muka seseorang itu berubah
menjadi merah. Air muka yang muram menyebabkan seseorang merasa tertekan, sedangkan
air muka yang ceria akan membantu memompakan semangat. Namun demikian,
kebenaran teori ini tidak dapat dijamin sepenuhnya karena senyum kadang-kadang bisa
dibuat-buat atau disengaja untuk melindungi perasaan marah atau kecewa (baca
cerita “senyum yang menyesatkan”)..
Bagaimanapun, terdapat juga alasan yang baik untuk
memastikan bahwa raut muka yang gembira akan merangsang perasaan Anda. Senyum
bukan saja menjadikan otak Anda merasa lega, tetapi mampu membuat orang lain
senang dan bersedia untuk berinteraksi dengan Anda.
GERAKAN OTOT & STAMINA
Aktivitas emosional kita sangat mempengaruhi enerji yang
kita keluarkan, sehingga dapat mempengaruhi stamina hidup kita, sebab gerakan
otot yang menerima perintah dari Amygdala akan bekerja mengikuti instruksi
tersebut. Apabila kita MARAH, kita akan mengedutkan sebanyak 63 otot yang ada
di raut muka, apabila kita MENGERUTKAN DAHI, kita akan menggerakkan sebanyak 40
otot yang ada di raut muka kita untuk bekerja, tetapi apabila kita SENYUM, kita
akan menggerakkan lebih kurang sebanyak 15-17 otot yang ada di raut muka, dan
hal itu bisa membuat wajah kita lebih rileks. Bayangkan!!
Senyum dan tertawa bisa melatih otot wajah kita. Kulit
jadi kencang, kerut-kerut di wajahpun jadi hilang. Cemberut bisa menimbulkan
kerutan permanen pada wajah.
Yang mana pilihan Anda?

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *