preloader

Pagi ini, orang tidak hanya membaca berita.
Orang membaca nasibnya sendiri.

Harga emas bergerak. Saham naik turun. Rupiah tertekan. Dolar seperti berdiri lebih tinggi dari biasanya. Di layar ponsel, angka-angka itu tampak dingin. Tetapi di dada banyak orang, angka-angka itu berubah menjadi kecemasan.

Kelas menengah barangkali paling sering mengalami kegelisahan ini. Mereka tidak miskin, tetapi juga belum benar-benar aman. Punya tabungan, tetapi takut nilainya susut. Punya gaji, tetapi merasa pengeluaran selalu lebih cepat berlari. Ingin investasi, tetapi takut salah langkah.

Ketika emas naik, orang cemas karena belum sempat membeli.
Ketika emas turun, orang cemas karena merasa rugi.
Ketika saham naik, orang takut ketinggalan.
Ketika saham turun, orang takut kehilangan.

Akhirnya hidup berubah menjadi ruang tunggu panjang bernama: “nanti bagaimana?”

Dalam beberapa hari terakhir, harga emas Antam sempat bergerak turun, sementara IHSG juga bergerak fluktuatif menjelang libur panjang. Ini menunjukkan satu hal: pasar memang tidak pernah benar-benar diam. Ia bergerak bersama sentimen, kabar, ketakutan, dan harapan manusia, mungkin juga angin.

Namun mungkin masalah terdalam bukan pada emas, saham, atau dolar. Masalah terdalam adalah rasa aman yang makin mahal.

Manusia modern punya banyak aplikasi keuangan, tetapi belum tentu punya ketenangan. Punya grafik, tetapi belum tentu punya pegangan. Punya akses informasi setiap detik, tetapi justru makin mudah panik setiap menit.

Barangkali, di zaman seperti ini, yang kita butuhkan bukan hanya kecerdasan finansial, tetapi juga kedewasaan batin. Sebab uang memang perlu dijaga. Tetapi hati juga jangan sampai setiap hari digadaikan kepada rasa takut.

Emas boleh naik. Saham boleh turun. Dolar boleh menguat.
Tetapi manusia jangan sampai kehilangan arah hidup hanya karena angka-angka di layar berubah warna.

Sebab pada akhirnya, kekayaan yang paling kita cari bukan sekadar keuntungan.

Melainkan rasa cukup.
Rasa tenang.
Dan keyakinan bahwa hidup masih bisa dijalani, meski pasar pagi ini sedang tidak ramah.

—eff

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *