
Pagi ini, sebelum kopi benar-benar dingin, seseorang sudah merasa hidupnya tertinggal hanya karena melihat unggahan orang lain.
Ada yang sedang liburan ke luar negeri. Ada yang baru membeli mobil. Ada yang pamer tubuh sehat, wajah glowing, bisnis melejit, rumah estetik, pasangan romantis, anak berprestasi, dan hidup yang tampak seperti brosur kebahagiaan.
Lalu seseorang menatap layar ponselnya sambil bertanya pelan, “Hidupku kok begini-begini saja?”
Padahal mungkin hidupnya tidak buruk. Ia masih bisa bangun pagi. Masih bisa minum kopi. Masih bisa bekerja. Masih punya keluarga. Masih punya meja makan. Masih punya orang yang menunggu ia pulang.
Tetapi media sosial sering membuat yang cukup terasa kurang. Yang sederhana terasa kalah. Yang biasa terasa memalukan.
Inilah zaman ketika manusia tidak selalu menderita karena tidak punya apa-apa, melainkan karena terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.
Kita menyebutnya FOMO: fear of missing out. Takut ketinggalan. Takut tidak ikut tren. Takut belum pernah ke tempat yang sedang ramai. Takut belum beli barang yang sedang viral. Takut hidup kita tidak cukup menarik untuk dipamerkan.
Akhirnya, banyak orang tidak lagi hidup berdasarkan kebutuhan, tetapi berdasarkan perbandingan. Tidak lagi bertanya, “Apa yang sungguh aku perlukan?” melainkan, “Apa yang sedang orang lain tunjukkan?”
Pelan-pelan, kita mengejar panggung orang lain dan lupa merawat rumah batin sendiri.
Padahal setiap orang punya musim hidup yang berbeda. Ada yang sedang panen. Ada yang baru menanam. Ada yang masih membersihkan tanah. Ada yang bahkan baru belajar menggenggam cangkul dengan benar.
Tidak adil membandingkan buah orang lain dengan benih yang baru kita tabur pagi ini.
Kita tidak selalu kalah dari orang lain. Kadang kita hanya terlalu sering membandingkan diri dengan panggung yang mereka pilih untuk ditampilkan.
Media sosial bukan cermin utuh kehidupan. Ia lebih sering menjadi etalase. Dan seperti etalase toko, yang dipajang biasanya yang paling rapi, paling terang, paling menggoda. Jarang orang memajang cicilan, luka batin, konflik rumah tangga, tagihan listrik, atau malam-malam ketika ia menangis sendirian.
Maka lucu juga manusia modern ini. Ia iri pada kebahagiaan orang lain, padahal yang dilihatnya mungkin hanya satu detik dari hidup yang juga sedang berantakan.
Kita perlu belajar berkata cukup. Bukan cukup karena hidup sudah sempurna, tetapi cukup karena hati tidak boleh terus-menerus diseret oleh pameran dunia.
Cukup bukan berarti berhenti bertumbuh. Cukup berarti tahu batas antara inspirasi dan iri hati. Antara belajar dari orang lain dan menyiksa diri sendiri. Antara ingin maju dan tidak pernah merasa layak.
Hidup tidak harus selalu ikut arus. Tidak semua yang viral harus dibeli. Tidak semua tempat indah harus dikunjungi. Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi ukuran kegagalan kita.
Ada kebahagiaan yang tidak perlu diunggah. Ada perjuangan yang tidak perlu diberi tepuk tangan. Ada proses sunyi yang kelak berbuah tanpa harus diumumkan setiap hari.
Sesekali, letakkan ponsel. Dengarkan napas sendiri. Lihat wajah orang-orang di rumah. Nikmati kopi yang sudah dibuat. Syukuri pekerjaan yang mungkin melelahkan, tetapi masih memberi jalan hidup.
Sebab yang paling berbahaya dari takut ketinggalan bukanlah kita tidak sampai di tempat orang lain.
Yang paling berbahaya adalah ketika kita terlalu sibuk mengejar hidup orang lain, sampai lupa pulang kepada diri sendiri.