
Aneh juga manusia.
Sudah cukup takut oleh cicilan, tagihan, harga beras, biaya sekolah, notifikasi bank, dan pertanyaan, “Kapan istirahat?”, masih pula membeli tiket untuk ditakut-takuti.
Tapi begitulah kita.
Bulan Mei 2026 ini bioskop memang cukup ramai oleh film horor Indonesia. Ada beberapa judul yang tayang berdekatan, seperti “AIN”, “The Bell: Panggilan untuk Mati”, “Tumbal Proyek”, “Kamu Harus Mati”, “Gudang Merica”, sampai “Badut Gendong”. Artinya, kalau akhir pekan ini orang ingin berteriak di ruang gelap, pilihannya cukup banyak.
Mungkin karena takut di bioskop terasa lebih tertib.
Kita tahu kapan film dimulai.
Kita tahu ada kursi empuk.
Kita tahu ada popcorn.
Kita tahu setelah lampu menyala, hantu-hantu itu tidak ikut pulang—kecuali dalam imajinasi sendiri.
Berbeda dengan ketakutan hidup.
Ketakutan hidup kadang tidak punya trailer. Tidak ada poster. Tidak ada jadwal tayang. Tiba-tiba saja datang sebagai tagihan, kabar buruk, pesan WhatsApp dari atasan, harga yang naik, atau wajah sendiri di cermin yang tampak lelah.
Di bioskop, orang takut bersama-sama. Itu mungkin sebabnya horor terasa menghibur. Ketika satu orang menjerit, yang lain tertawa. Ketika satu orang menutup mata, yang lain pura-pura berani. Padahal di dalam hati sama saja: sama-sama kaget, sama-sama deg-degan, sama-sama menunggu adegan berikutnya.
Dan hidup pun sebenarnya begitu.
Kita semua sedang duduk di bioskop besar bernama dunia. Bedanya, tidak semua orang mendapat kursi yang sama nyaman. Ada yang hidupnya sedang masuk adegan komedi. Ada yang sedang drama keluarga. Ada yang sedang laga. Ada pula yang merasa hidupnya seperti horor tanpa jeda iklan.
Namun, selalu ada hal lucu dari manusia: semakin takut, semakin mencari teman.
Maka mungkin film horor bukan hanya soal hantu. Ia juga soal kebutuhan manusia untuk tidak sendirian menghadapi rasa takut.
Sebab takut yang dibagi sering menjadi tawa.
Takut yang ditertawakan sedikit kehilangan kuasanya.
Takut yang ditemani terasa tidak terlalu gelap.
Itulah mengapa akhir pekan kadang tidak perlu terlalu serius. Tidak semua hari harus diisi dengan analisis politik, ekonomi, dan masa depan bangsa. Sesekali kita boleh duduk santai, membeli tiket, menonton film, lalu menertawakan diri sendiri karena kaget oleh suara pintu berderit.
Hidup sudah cukup banyak membuat kita melonjak.
Setidaknya di bioskop, kita tahu siapa sutradaranya.
Di luar bioskop, kita sering tidak tahu siapa yang mengatur jalan cerita. Tapi kita tetap bisa memilih cara menjalaninya: dengan sedikit keberanian, sedikit humor, dan beberapa orang yang bisa diajak tertawa setelah ketakutan lewat.
Karena pada akhirnya, yang membuat hidup lebih ringan bukan karena tidak ada rasa takut.
Melainkan karena ada teman yang berkata setelah film selesai:
“Takut, ya?”
Lalu kita menjawab dengan gengsi yang sudah compang-camping:
“Enggak. Cuma kaget sedikit.”
Padahal jantung masih latihan lari.
Selamat akhir pekan.
Boleh takut sedikit.
Asal jangan lupa tertawa.

–eff