preloader

Setiap hari, umur kita bertambah.

Tanpa diminta. Tanpa disadari. Diam-diam kalender berganti, angka usia naik satu demi satu. Rambut mulai menyimpan warna lain. Tenaga tidak lagi secepat dulu. Wajah pelan-pelan mencatat perjalanan yang tidak selalu sempat kita ceritakan.

Tetapi pertanyaannya: apakah hidup kita juga bertambah?

Sebab umur dan hidup ternyata tidak selalu berjalan bersama. Umur bisa bertambah karena waktu lewat. Tetapi hidup hanya bertambah bila kita benar-benar hadir di dalamnya.

Kita bisa melewati banyak hari, tetapi tidak sungguh menghidupi satu pun. Bangun pagi, bekerja, membalas pesan, mengejar target, membayar tagihan, pulang dalam keadaan lelah, lalu tertidur dengan pikiran yang belum selesai. Besoknya, semua berulang lagi.

Pelan-pelan, kita menjadi manusia yang sibuk bertahan, tetapi lupa merasakan.

Kita menambah usia, tetapi lupa menambah makna. Kita memperpanjang daftar kewajiban, tetapi memperpendek waktu untuk bersyukur. Kita mengenal banyak orang, tetapi jarang benar-benar menyapa. Kita tinggal serumah, tetapi kadang tidak sungguh saling pulang.

Mungkin hidup tidak selalu harus besar. Tidak harus gemuruh. Tidak harus terlihat berhasil di mata semua orang.

Kadang hidup bertambah ketika kita sempat duduk sebentar bersama keluarga tanpa tergesa. Ketika kita mendengarkan seseorang tanpa memotong ceritanya. Ketika kita mengucapkan terima kasih kepada orang yang selama ini kita anggap biasa. Ketika kita minta maaf sebelum terlambat. Ketika kita masih mampu menolong, meski hanya sedikit.

Hidup bertambah bukan hanya karena kita mendapatkan sesuatu, tetapi juga karena kita memberi ruang bagi sesuatu yang manusiawi di dalam diri kita.

Ada orang yang usianya panjang, tetapi hidupnya sempit oleh dendam. Ada yang hartanya banyak, tetapi hatinya miskin oleh rasa takut kehilangan. Ada yang terlihat sibuk membangun masa depan, tetapi kehilangan hari ini.

Dan ada pula orang sederhana yang tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa tidak sendirian. Mungkin orang seperti itulah yang benar-benar hidup.

Pada akhirnya, yang dikenang bukan hanya berapa lama kita berada di dunia. Melainkan apakah selama itu kita pernah menjadi rumah bagi seseorang. Pernah menjadi tangan yang menolong. Pernah menjadi telinga yang mendengar. Pernah menjadi cahaya kecil di hari gelap orang lain.

Maka hari ini, sebelum umur kembali bertambah, mari bertanya pelan-pelan kepada diri sendiri:

Apakah aku hanya sedang menua, atau sungguh sedang hidup?

Semangat Pagi…
—eff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *