Ada sesuatu yang berbeda dari pagi hari.

Ia belum terlalu ramai.
Belum terlalu bising.
Belum terlalu penuh kepentingan.
Pagi adalah jeda singkat sebelum dunia kembali memakai topengnya masing-masing.
Di jam-jam seperti ini, suara motor terdengar lebih jelas. Langkah orang terasa lebih nyata. Bahkan secangkir kopi seperti memiliki kemampuan untuk mengajak manusia berdamai sebentar dengan dirinya sendiri.
Mungkin karena pagi belum sempat berbohong.
Belum ada senyum formal yang dipaksakan.
Belum ada rapat yang penuh bahasa diplomasi.
Belum ada unggahan media sosial yang sibuk terlihat bahagia.
Yang ada hanya manusia—dengan wajah paling sederhana sebelum hari mulai menuntut banyak hal darinya.
Ada pegawai yang duduk diam sebentar di atas motor sebelum masuk kerja.
Ada ibu yang menyiapkan sarapan sambil menyembunyikan lelahnya.
Ada penjaga toko yang membuka rolling door sambil menghitung harapan.
Ada sopir, petugas kebersihan, satpam, dan pekerja pasar yang sudah bergerak ketika sebagian besar kota masih memeluk bantal.
Pagi menyimpan kejujuran yang sering hilang saat siang datang.
Karena semakin hari meninggi, manusia mulai sibuk memainkan perannya:
menjadi kuat,
menjadi sukses,
menjadi baik-baik saja,
meski kadang sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
Mungkin itu sebabnya banyak orang menyukai pagi.
Bukan karena mataharinya.
Tetapi karena pagi masih memberi kesempatan untuk menjadi diri sendiri sebelum dunia meminta kita menjadi orang lain.
Dan di antara embun, suara burung, serta jalanan yang perlahan ramai,
ada satu hal yang sering diam-diam kita lupakan:
bahwa hidup bukan hanya tentang berlari mengejar sesuatu,
tetapi juga tentang menjaga agar hati tidak kehilangan dirinya sendiri.
Selamat pagi.
Semoga hari ini,
kita tidak hanya sibuk menjalani hidup,
tetapi juga masih sempat mendengarkan diri sendiri.
—eff