preloader

Banyak brand tidak jatuh karena produknya buruk.

Mereka jatuh karena terlambat membaca perubahan.

Perubahan itu jarang datang dengan suara keras.
Ia biasanya muncul lebih dulu sebagai tanda-tanda kecil:
– cara orang bertanya mulai berubah,
– selera mulai bergeser,
– cara membandingkan mulai berbeda,
– dan yang dulu dianggap penting, perlahan mulai kehilangan daya.

Sayangnya, banyak bisnis baru sadar setelah dampaknya terasa.

Padahal brand yang kuat biasanya bukan hanya pandai menjual hari ini.
Mereka juga peka terhadap arah esok hari.

Mereka tidak cuma bertanya:
“apa yang laku sekarang?”

Mereka juga bertanya:
“apa yang sedang berubah, meski belum ramai dibicarakan?”

Bagi saya, di situlah salah satu inti marketing yang sebenarnya.

Bukan sekadar promosi.
Tetapi kepekaan membaca tanda.

Saya sedang menulis seri pendek tentang Membaca Zaman. Kalau ini menarik, saya lanjutkan.

www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *