preloader

Selasa sering datang tanpa banyak basa-basi.
Ia bukan Senin yang ramai dengan tekad baru.
Bukan Jumat yang disambut dengan napas lega.
Selasa adalah hari kerja yang paling jujur: tidak terlalu awal untuk bersemangat, tidak terlalu dekat dengan akhir pekan untuk berpesta.

Di hari seperti inilah kita sering bertanya dalam hati:
“Untuk apa sebenarnya aku melakukan semua ini?”

Orang Jepang menyebut salah satu jawabannya dengan kata Ikigai: alasan untuk bangun pagi. Bukan sekadar cita-cita besar, bukan pula ambisi yang gaduh. Ikigai adalah titik pertemuan antara apa yang kita cintai, apa yang bisa kita lakukan, apa yang dibutuhkan orang lain, dan apa yang membuat hidup kita terasa bermakna.

Kadang kita mencari kebahagiaan terlalu jauh. Padahal mungkin ia sedang duduk diam di meja kerja kita. Dalam pekerjaan yang kita selesaikan dengan sungguh-sungguh. Dalam pelanggan yang kita layani dengan ramah. Dalam keluarga yang kita nafkahi dengan diam-diam. Dalam tugas kecil yang kita kerjakan bukan karena diawasi, melainkan karena kita ingin menjadi manusia yang layak dipercaya.

Mpu Sabak pernah berbisik pelan:

“Eff, hidup yang panjang bukan hanya dihitung dari umur. Tetapi dari seberapa banyak hari yang kita isi dengan makna.”

Maka Selasa ini, jangan hanya bekerja agar selesai.
Bekerjalah agar ada sesuatu yang tumbuh dalam diri kita: ketekunan, kesabaran, kejujuran, dan rasa syukur.

Sebab kebahagiaan tidak selalu datang sebagai ledakan besar. Kadang ia hadir sebagai kesadaran sederhana: bahwa hidup kita masih berguna, tangan kita masih bisa menolong, pikiran kita masih bisa belajar, dan hati kita masih bisa memilih untuk tidak menyerah.

Barangkali, Ikigai kita hari ini bukan sesuatu yang jauh dan megah.
Barangkali ia hanya sesederhana ini:

Bangun pagi.
Menjalani tugas.
Melayani dengan hati.
Pulang dengan rasa cukup.
Lalu esok hari, mencoba lagi menjadi manusia yang lebih baik.

Selamat hari Selasa.
Semoga hari ini kita tidak hanya sibuk hidup, tetapi juga sungguh-sungguh menemukan alasan mengapa hidup ini layak dijalani.

Apa “alasan bangun pagi” Anda hari ini?
Tulis komentar Anda ya!

www.deneff.my.id

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *