preloader

Tidak semua doa diucapkan dengan suara.

Ada doa yang jatuh bersama keringat seorang ayah saat berangkat kerja sebelum matahari benar-benar bangun. Ada doa yang diselipkan seorang ibu di antara lelah dan senyumnya. Ada doa yang tersembunyi di balik langkah karyawan toko, sopir, kasir, pramuniaga, buruh bangunan, petugas kebersihan, penjaga malam, dan siapa pun yang bekerja dengan jujur.

Mpu Sabak pernah berkata, “Jangan meremehkan keringat. Sebab sering kali, keringat adalah bahasa paling jujur dari sebuah harapan.”

Di Hari Buruh ini, kita diingatkan bahwa kerja bukan semata-mata tentang gaji. Kerja adalah tentang martabat. Tentang seseorang yang memilih tetap berdiri, meski hidup tidak selalu mudah. Tentang tangan yang tidak meminta belas kasihan, tetapi ingin diberi kesempatan. Tentang hati yang diam-diam berkata: semoga hari ini cukup untuk keluarga di rumah.

Kadang kita terlalu cepat menilai orang dari jabatan, pakaian, atau besar kecilnya penghasilan. Padahal, di mata kehidupan, yang paling mulia bukan selalu yang duduk paling tinggi, melainkan yang tetap bekerja dengan setia, jujur, dan tidak kehilangan harga diri.

Seorang pemimpin pun perlu mengingat ini: di balik target perusahaan, ada manusia yang berjuang. Di balik laporan penjualan, ada kaki yang lelah berdiri. Di balik pelayanan yang ramah, ada hati yang mungkin sedang menyimpan banyak beban.

Maka menghargai pekerja bukan hanya dengan upah yang layak, tetapi juga dengan sikap yang manusiawi. Dengan kata yang tidak merendahkan. Dengan aturan yang adil. Dengan kesempatan untuk bertumbuh.

Sebab setiap pekerjaan yang halal adalah jalan ibadah. Setiap keringat yang jujur adalah tanda kehormatan. Dan setiap orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh sedang menulis doa, meski dunia tidak selalu mendengarnya.

Hari ini, mari kita belajar lebih peka.

Jangan hanya melihat hasil kerja seseorang. Lihat juga perjuangan yang ia pikul diam-diam.

Karena di balik setiap keringat, ada doa yang tidak selalu terdengar. Ada cinta untuk keluarga. Ada harapan untuk hari esok. Ada martabat yang sedang dijaga.

Dan barangkali, di sanalah letak hikmah terdalam dari bekerja:
bukan sekadar mencari nafkah, tetapi menjaga kehidupan tetap menyala.

www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *