preloader

Di ruang tamu,
televisi tua berdehem.
Katanya ia lelah
menayangkan harapan
yang setiap tahun diganti bungkus,
tapi isinya tetap utang dan alasan.

Di dapur,
panci menatap kompor
yang menyala kecil.
“Api makin mahal,” katanya,
“tapi kabar baik masih gratis—
sayangnya jarang ada yang memasak.”

Di dompet seorang pekerja,
selembar uang baru berbisik:
“Aku sering digembar-gemborkan naik,
tapi entah kenapa
aku selalu terasa lebih kecil
setiap kali kau memegangku.”

Di halte,
seorang ibu menunggu bus
yang katanya akan datang tepat waktu.
Bus itu lewat, tentu saja,
tapi hanya untuk mengingatkan
bahwa janji memang punya hobi
menyapa tanpa berhenti.

Di sekolah,
papan tulis menatap murid-muridnya.
“Pelajaran toleransi,” tulisnya,
lalu kapur patah
sebelum sempat menjelaskan
kenapa orang dewasa
lebih suka berdebat daripada mendengar.

Di kantor kelurahan,
kursi plastik berkata lirih:
“Aku sudah diduduki
banyak orang penting,
tapi entah kenapa
masalah yang mereka bawa
selalu pulang bersama mereka.”

Dan di hati rakyat,
ada kalender
yang terus berganti tahun
tanpa pernah benar-benar menjawab
kapan kesejahteraan
berhenti jadi wacana
dan mulai jadi kenyataan.

—DenEff

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *