Di lemari arsip, berkas-berkas tua saling berbisik:
“Lucu ya, kami sering dijanjikan akan dibuka,
tapi yang dibuka selalu cuma peluang
untuk melupakan masalah.”
Di ruang sidang, mikrofon mengeluh:
“Aku sudah merekam ribuan janji,
tapi entah kenapa yang paling sering diputar ulang
justru alasan.”
Di jalan raya, lubang-lubang kecil berkumpul rapat.
Mereka mengadakan rapat darurat
tentang bagaimana caranya
agar manusia sadar
bahwa mereka tidak hanya menghindari lubang,
tetapi juga masa depan yang bolong.
Di pasar, timbangan tua tertawa getir.
“Aku selalu adil,” katanya,
“tapi harga-harga suka bercanda
dan rakyat dipaksa ikut tertawa
meski dompetnya tidak lucu.”
Di kantor pajak, kursi besi berdecit pelan:
“Orang-orang duduk di atas aku
untuk membahas kesejahteraan,
tapi yang pulang dengan wajah lega
biasanya bukan yang paling membutuhkan.”
Di sekolah, buku pelajaran menutup diri.
“Anak-anak ini pintar,” katanya,
“tapi mereka harus belajar
bahwa kejujuran kadang kalah
dari yang pandai bersandiwara.”
Di rumah-rumah sempit, kalender menggigil.
Setiap bulan ia mencatat harapan baru,
lalu mencoret satu per satu
karena kenyataan suka datang
tanpa mengetuk pintu
dan membawa kabar
yang tidak ingin dibaca.
Dan di hati rakyat, ada lampu kecil
yang terus berkedip:
bukan karena kehabisan daya,
melainkan karena terlalu sering dipaksa percaya
bahwa gelap adalah bagian dari proses
menuju terang
yang tak kunjung tiba.
Negara, katanya, sedang berbenah.
Tapi benda-benda kecil ini tahu:
yang paling rajin dibenahi
adalah cara mengucapkan janji,
bukan cara menepatinya.
Negara, katanya, sudah merdeka.
Tapi benda-benda kecil ini tahu:
yang merdeka baru benderanya,
rakyatnya masih antre panjang
untuk sekadar merasa
hidupnya tidak sedang menunggu
sesuatu yang tak kunjung datang.
—DenEff