preloader

Aku mengenang bukan untuk meratap
Tapi, agar aku lebih tegar menatap!

Hari ini, 12 Mei 1998
Kukenang sebuah episode perjalanan kemanusiaan bangsaku:
Bersama dengan seribu lebih meregang nyawa,
empat manusia pilar masa depan negriku terenggut rohnya dengan sia-sia
Dan tak terbilang penderitaan saudaraku yang lain, hingga detik ini masih menggelayut denyutnya

“Perjuangan pasti ada korban!”, kata mereka mencari pembenar
“Omong kosong macam apa itu?”, nuraniku menggugat

Wahai, Sang Pemilik Kehidupan…
kunaikan permohonan kehadirat-Mu bagi saudara-saudaraku yang tak diduniaku lagi;
tempatkanlah mereka ditempat yang tak terjangkau lagi oleh kebiadaban.
kuhunjukkan pula kehadapan-MU bagi mereka yang tak memiliki nurani lagi;
giringlah mereka ke liang pertobatan, agar mereka mati untuk hidup lagi dalam kemuliaan-Mu.

Aku mengenang bukan untuk meratap
Tapi, agar aku lebih bijak menatap!

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *