ibu yang mempunyai tiga orang anak, masing-masing berusia 14, 12, dan 3 tahun
baru saja menyelesaikan kuliahnya. Kelas terakhirnya yang harus diambil adalah
mata kuliah Sosiologi. Tugas terakhir yang diberikan Sang Dosen diberi tema
“Tersenyum”. Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum
kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.
dari tiga anak tersebut adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu
tersenyum pada setiap orang yang dijumpainya sambil menyapa “halo”, jadi, tugas tersebut
sangatlah mudah baginya.
pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering, ia bersama-sama dengan suami
dan anak bungsunya pergi ke Restoran Mc. Donald’s.
layaknya pelayanan di restoran cepat saji ini adalah mengantri, menunggu untuk
dilayani. Sesuatu terjadi dalam antrian keluarga ini, mendadak setiap orang di
sekitar antrian tersebut mulai menyingkir, bahkan suaminya pun ikut menyingkir.
Si Ibu ini tidak bergerak sama sekali… suatu perasaan panik menguasai dirinya
ketika ia membalikkan badannya untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.
Ketika membalikkan badannya itulah hidungnya menangkap bau, aroma “bau
badan kotor” yang sangat menyengat, dan aroma itu berasal dari dua orang
lelaki tunawisma yang berdiri dibelakangnya. Ketika ia melihat lelaki yang
lebih pendek, yang dekat dengannya, lelaki itu “tersenyum”. Matanya
yang berwarna biru langit bercahaya menyiratkan permohonannya agar kehadirannya
bisa diterima, lalu lekaki itu berkata “Selamat
Siang” sambil menghitung beberapa koin yang telah dikumpulkannya.
Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di
belakang temannya. Ibu itu menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita
keterbelakangan mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Ibu
dari tiga orang anak itu menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.
muda petugas layanan restoran tersebut menanyai lelaki itu, apa yang mereka
inginkan. Ia berkata, “Kopi saja, Nona”,
karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
Sebab, jika mereka ingin duduk di dalam restoran untuk menghangatkan
tubuh mereka, mereka harus membeli sesuatu. Mereka hanya ingin menghangatkan
badan. Kemudian Si Ibu itu benar-benar merasakan keharuan yang luar biasa,
desakan itu sedemikian kuat sehingga Si Ibu hampir saja merengkuh dan memeluk
lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika Si Ibu
menyadari bahwa semua mata di restoran menatapnya, mengamati dan menilai semua
tindakannya. Lalu, Si Ibu itu tersenyum dan berkata pada wanita petugas layanan
restoran tersebut untuk memberikan kepadanya dua paket makan pagi lagi dalam
nampan terpisah. Kemudian Si Ibu itu berjalan melingkari sudut ke arah meja
yang telah dipilih oleh kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Ia meletakkan nampan itu ke atas meja dan
meletakkan tangannya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu. Lelaki itu
melihat ke arah Si Ibu, dengan air mata berlinang, dan berkata “Terima kasih”. Si Ibu
kemudian meluruskan badannya dan mulai menepuk tangan lelaki itu dan berkata, “Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan
berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan.”
Ibu mulai menitikkan airmatanya ketika ia berjalan meninggalkan kedua lelaki itu
dan bergabung dengan suami dan anaknya. Ketika ia duduk, suaminya tersenyum
kepadanya dan berkata, “Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan
kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku
harapan.” Mereka saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada
saat itu mereka tahu bahwa hanya karena Rahmat Tuhan mereka diberikan apa yang
dapat mereka berikan untuk orang lain. Hari itu menunjukkan kepadanya cahaya
kasih Tuhan yang murni dan indah.
Pada hari terakhir
kuliahnya, Si Ibu dari tiga orang anak tersebut menyerahkan “tugas”
nya dan dosennya membacanya. Kemudian ia melihat kepadanya dan berkata, “Ijinkan saya membagikan ceritamu ini kepada yang
lain?” Ia mengangguk pelahan dan dosen
kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu Si
Ibu tahu bahwa ia, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman
ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.
Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai Si Ibu itu untuk menyentuh
orang-orang yang ada di McDonald’s, suaminya, anaknya, gurunya, dan setiap jiwa
yang menghadiri ruang kelas di malam terakhirnya sebagai mahasiswi. Ia lulus
dengan satu pelajaran terbesar yang pernah ia pelajari: Penerimaan yang tak bersyarat, senyum!