preloader

Abraham Lincoln sejak muda sudah tertarik pada hal-hal
tentang keadilan. Suatu kali ia mendapati dua orang temannya sedang terlibat
perdebatan sengit, dan hampir berkelahi; baku hantam. Ia merasa terpanggil
melihat kejadian tersebut untuk membantu memecahkan masalahnya. Ia menggali
akar permasalahan yang menimbulkan pertengkaran tersebut, setelah mendapatkan
masukan dari kedua belah pihak, lalu menganalisanya dan sampailah ia untuk
mengambil keputusan seadil-adilnya.
Namun, pihak yang kalah menilai Abraham Lincoln bertindak
tidak adil kepadanya, dengan angkuhnya ia menantang,
”Hai, Lincoln.
Saya akan menghabisimu!”
Lincoln menunduk dan tersenyum geli melihat penantangnya
yang tubuhnya jauh lebih kecil dari dirinya. “Baiklah,” kata Lincoln, “tapi
kita berkelahi dengan adil ya… Kamu kan kecil, mana mungkin saya bisa
memukulmu, dan saya lebih besar dari kamu kan? kamu pasti tidak bisa memukulku,
bukan? Jadi, buatlah tanda dengan kapur pada tubuhku yang sama tingginya dengan
tubuhmu. Bila kita berkelahi, kamu harus memukulku pada bagian tubuhku yang
sudah ditandai, jika tidak begitu, maka perkelahian ini tidak adil, setuju?!”

Perkelahian itu tidak
pernah terjadi, karena penggertak kecil itu tersenyum geli mendengar syarat
yang diusulkan Lincoln, dan baku mulut berakhir menjadi gurauan lucu.

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *