Pagi itu pendapa Semar lebih ramai dari biasanya.

Di atas tikar pandan, Petruk sedang membaca koran. Gareng sibuk menghitung sesuatu di kalkulator. Bagong memegang piring kosong. Sementara Semar duduk tenang menyeruput kopi.
Tak lama kemudian datanglah Mpu Sabak membawa sabak tua dan kapur putih.
“Ada apa pagi-pagi sudah seperti rapat kabinet?” tanya Mpu Sabak.
Petruk mengangkat koran.
“Ini, Paman. Lagi ramai soal BGN dan MBG.”
“BGN itu Badan Gizi Nasional. MBG itu Makan Bergizi Gratis,” jawab Gareng cepat.
Bagong langsung mengangkat piring kosongnya.
“Nah! Saya ini bagian yang gratisnya.”
Semar menghela napas.
“Kamu memang sejak lahir paling peka terhadap kata gratis.”
Petruk membuka pembicaraan.
“Menurutku program ini bagus. Anak-anak makan. Gizi membaik. Perut kenyang.”
Gareng mengangguk.
“Benar. Kalau anak sekolah lapar, pelajaran matematika bisa berubah jadi pelajaran menghitung bakso.”
Bagong menimpali.
“Saya dulu kalau lapar, melihat angka nol saja seperti donat.”
Mpu Sabak tertawa kecil.
“Lalu apa yang diperdebatkan?”
Petruk menjawab,
“Ya seperti biasa. Ada yang memuji. Ada yang mengkritik. Ada yang belum melihat hasil tapi sudah berkelahi dulu.”
“Seperti pertandingan sepak bola?” tanya Semar.
“Bahkan bolanya belum ditendang.”
Semar meletakkan cangkirnya.
“Anak-anak, persoalan makan itu bukan perkara kecil.”
Semua diam.
“Dalam sejarah manusia, banyak kerusuhan dimulai bukan karena filsafat, melainkan karena perut.”
Gareng mengangguk.
“Betul. Orang lapar sulit diajak mendiskusikan puisi.”
Bagong menambahkan,
“Orang lapar bahkan bisa menganggap buku resep sebagai novel petualangan.”
Petruk kembali membuka koran.
“Tapi ada juga yang bertanya, apakah negara sanggup membiayainya?”
Semar tersenyum.
“Itu pertanyaan yang wajar.”
“Jadi bagaimana jawabannya?” tanya Bagong.
Semar menjawab pelan.
“Program besar harus diukur bukan hanya dari niatnya, tetapi dari pelaksanaannya.”
“Seperti apa?”
“Kalau nasi sampai ke meja anak, itu keberhasilan. Kalau yang kenyang hanya rapatnya, itu masalah.”
Mpu Sabak langsung mencatat kalimat itu di sabaknya.
Gareng mulai berhitung.
“Kalau jutaan anak menerima makanan setiap hari, berarti perlu beras, telur, sayur, susu, distribusi, dapur, tenaga kerja…”
“Dan sendok,” sela Bagong.
“Ya, dan sendok.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Nah, di situlah menariknya.”
“Maksudnya?” tanya Petruk.
“Orang sering melihat MBG sebagai program makan. Padahal di belakang satu piring nasi ada petani, peternak, nelayan, pengangkut, pedagang, juru masak, hingga pencuci piring.”
Bagong tampak terharu.
“Jadi pencuci piring juga bagian dari ekonomi nasional?”
“Tentu.”
“Wah. Selama ini saya merasa hanya bagian dari cucian keluarga.”
Tiba-tiba Gareng bertanya,
“Tapi kenapa setiap program pemerintah selalu dibelah menjadi dua kubu?”
Semar tertawa.
“Itu penyakit lama.”
“Bagaimana maksudnya?”
“Kalau hujan turun, satu kubu berkata hujannya terlalu deras. Kubu lain berkata hujannya terlalu pelan. Yang lupa, sawah tetap membutuhkan air.”
Petruk manggut-manggut.
“Jadi kita harus bagaimana?”
“Menilai dengan kepala dingin.”
“Maksudnya?”
“Kalau berhasil, katakan berhasil. Kalau ada kekurangan, perbaiki. Jangan karena suka lalu semua dianggap benar. Jangan karena benci lalu semua dianggap salah.”
Bagong yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya serius.
“Paman Semar, sebenarnya apa ukuran keberhasilan MBG?”
Semar tersenyum.
“Pertanyaan bagus.”
Semua terkejut.
Karena biasanya pertanyaan Bagong berbahaya.
“Ukuran pertama, anak-anak lebih sehat.”
“Ukuran kedua?”
“Anak-anak lebih siap belajar.”
“Ukuran ketiga?”
“Ekonomi rakyat ikut bergerak.”
“Ukuran keempat?”
“Semakin sedikit anak yang berangkat sekolah dengan perut kosong.”
Bagong mengangguk pelan.
“Lalu ukuran kelima?”
Semar menatap piring kosong di tangan Bagong.
“Kalau suatu hari tidak ada lagi anak yang harus belajar sambil menahan lapar.”
Angin pagi berembus perlahan.
Mpu Sabak menutup sabaknya.
“Lalu apa pelajaran zaman hari ini?”
Semar memandang langit.
“Bahwa sepiring nasi tidak pernah sekadar sepiring nasi.”
“Melainkan?”
“Di dalamnya ada politik, ekonomi, anggaran, petani, distribusi, harapan, dan masa depan.”
Petruk mengangguk.
Gareng mengangguk.
Mpu Sabak mengangguk.
Bagong juga mengangguk.
Lalu bertanya,
“Kalau begitu, siapa yang akan mengisi piring saya?”
Semar menepuk jidat.
“Dasar Bagong.”
Pendapa pun pecah oleh tawa.
Dan di kejauhan, matahari naik perlahan.
Seolah mengingatkan bahwa kadang-kadang perdebatan terbesar bangsa ini berawal dari hal yang sangat sederhana:
seorang anak yang ingin belajar dengan perut yang tidak lapar.
Catatan DenEff – Membaca Zaman
Program besar seperti BGN dan MBG memang layak diperdebatkan, tetapi perdebatan terbaik bukanlah soal siapa yang paling keras bersorak atau paling nyaring mencela. Ukuran akhirnya sederhana: apakah anak-anak Indonesia menjadi lebih sehat, lebih siap belajar, dan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa tidak dibangun di atas pidato, melainkan di atas manusia yang bertumbuh dengan baik.
—-eff