
Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali kita membaca berita korupsi yang berkaitan dengan bantuan untuk rakyat kecil.
Perasaan kita biasanya tidak sekadar marah. Ada rasa lain yang lebih sulit dijelaskan. Rasa sesak.
Mungkin karena yang dicuri bukan hanya uang.
Yang dicuri adalah harapan.
Ketika seseorang mengurangi timbangan beras, yang hilang memang beberapa kilogram beras. Ketika seseorang memotong anggaran pembangunan jalan, yang hilang mungkin beberapa meter aspal. Tetapi ketika yang dikorupsi adalah program untuk memberi makan anak-anak, yang hilang jauh lebih besar daripada angka dalam laporan keuangan.
Yang hilang adalah kesempatan seorang anak untuk tumbuh sehat.
Yang hilang adalah keyakinan orang tua bahwa negara hadir untuk mereka.
Yang hilang adalah kepercayaan masyarakat bahwa kebaikan masih bisa sampai kepada orang yang membutuhkan.
Ironisnya, anak-anak yang menjadi sasaran program itu mungkin tidak pernah mengerti apa itu korupsi. Mereka hanya tahu rasa lapar.
Mereka tidak paham istilah mark up, fee proyek, penggelembungan harga, atau permainan tender. Mereka hanya tahu bahwa saat jam makan tiba, perut mereka berharap ada sesuatu yang bisa mengusir bunyi keroncongan.
Maka terasa begitu menyakitkan ketika orang-orang dewasa yang sudah kenyang justru berebut jatah makanan bagi mereka yang masih lapar.
Seolah-olah ada ironi besar yang sedang dipertontonkan di hadapan kita.
Yang lapar anak-anak.
Yang kenyang justru orang dewasa.
Padahal ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan pertama-tama gedung yang menjulang, jalan tol yang panjang, atau angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ukuran paling sederhana dari sebuah peradaban adalah bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya.
Karena anak-anak tidak punya kekuasaan untuk membela diri.
Mereka tidak bisa mengadakan konferensi pers.
Mereka tidak bisa membuat laporan investigasi.
Mereka tidak bisa memanggil pengacara.
Mereka hanya bisa menerima apa yang diberikan orang dewasa.
Itulah sebabnya setiap kali ada penyimpangan pada program yang menyangkut anak-anak, sesungguhnya yang sedang terluka bukan hanya anggaran negara, melainkan nurani kita bersama.
Kita sering berbicara tentang bonus demografi. Tentang Indonesia Emas. Tentang masa depan bangsa.
Tetapi masa depan tidak pernah dibangun dengan pidato.
Masa depan dibangun oleh anak-anak yang hari ini makan cukup, belajar dengan baik, dan tumbuh dengan sehat.
Karena itu, setiap rupiah yang diperuntukkan bagi mereka seharusnya diperlakukan seperti titipan suci.
Bukan karena uang itu milik negara.
Melainkan karena uang itu sesungguhnya milik masa depan.
Dan mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan pagi ini bukanlah berapa besar kerugian negara yang ditimbulkan.
Melainkan pertanyaan yang lebih sederhana:
Bagaimana mungkin orang dewasa yang sudah kenyang masih tega mengambil hak makan anak-anak yang lapar?
Kadang-kadang, sebuah bangsa tidak diuji saat mengalami kekurangan.
Sebuah bangsa justru diuji ketika memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Dan sejarah selalu mencatat siapa yang memilih memberi makan, dan siapa yang memilih mengambil jatah makan.
Bagaimana menurut Anda?