
Ada kabar yang membuat dada terasa sesak. Seorang remaja Surabaya, Thomas Julius Kristianto, 19 tahun, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Manukan, Surabaya. Polisi telah menetapkan dan menahan empat pelajar sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Menurut pemberitaan, peristiwa ini diduga bermula dari perkara sandal Crocs yang hilang, meski rincian motif dan peran masing-masing pelaku tetap menjadi ranah penyidikan aparat hukum.
Saya membaca kabar itu pelan-pelan. Bukan karena beritanya sulit dipahami, tetapi karena hati manusia kadang terlalu sulit dipercaya. Bagaimana mungkin sebuah perkara sandal bisa berjalan sejauh itu? Bagaimana mungkin sesuatu yang semestinya diselesaikan dengan bicara baik-baik, mediasi keluarga, atau tanggung jawab sederhana, berubah menjadi jalan gelap menuju kematian?
Lalu datanglah Mpu Sabak. Seperti biasa, ia tidak mengetuk pintu. Ia hanya muncul di beranda pikiran, membawa kopi pahit, duduk bersila, lalu berkata:
“Den, sandal itu alas kaki. Tapi rupanya ada orang yang menjadikannya alas kemarahan.”
Saya diam.
Mpu Sabak menyeruput kopinya.
“Yang hilang mula-mula mungkin sandal. Tetapi yang lebih dulu hilang sesungguhnya adalah akal sehat.”
Menurut keterangan keluarga korban yang diberitakan media, sandal pengganti disebut sudah diberikan. Namun kemudian muncul keberatan soal selisih nilai: sandal asli diklaim bernilai sekitar Rp1,5 juta, sementara sandal pengganti disebut sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Sekali lagi, ini adalah keterangan pihak keluarga korban sebagaimana diberitakan, dan tentu proses hukum tetap harus berjalan untuk memastikan duduk perkara secara adil.
Tetapi sebagai masyarakat, kita boleh merenung. Kita boleh bertanya, bukan untuk mendahului pengadilan, melainkan untuk mengadili diri sendiri.
Sejak kapan barang menjadi lebih mahal daripada belas kasih?
Sejak kapan harga merek lebih tinggi daripada harga manusia?
Sejak kapan anak-anak kita lebih cepat belajar membalas daripada belajar menyelesaikan?
Mpu Sabak menggeleng pelan.
“Zaman sekarang banyak orang memakai sandal mahal, Den. Tapi tidak semua orang masih punya pijakan moral.”
Kalimat itu menampar. Sebab benar, sandal dipakai untuk berpijak. Tetapi ketika manusia kehilangan pijakan nurani, ia bisa berjalan ke mana saja: ke arah amarah, pengeroyokan, kekejaman, bahkan kematian orang lain.
Yang membuat luka peristiwa ini semakin dalam bukan hanya karena ada nyawa yang hilang. Tetapi karena alasan yang diberitakan terasa begitu kecil dibanding akibatnya. Barang bisa diganti. Uang bisa dicari. Sandal bisa dibeli lagi. Tetapi nyawa, sekali pergi, tidak pernah pulang ke rumah. Ia hanya menyisakan kursi kosong, kamar yang mendadak sunyi, dan keluarga yang dipaksa belajar hidup bersama kehilangan.
Di titik ini, kita perlu berhenti sejenak dari kebiasaan mengomentari berita hanya dengan marah-marah. Sebab berita semacam ini bukan sekadar bahan viral. Ia adalah cermin. Dan cermin, kalau kita berani menatapnya, sering lebih kejam daripada berita itu sendiri.
Kita melihat wajah zaman yang mudah tersulut.
Kita melihat anak-anak muda yang mungkin lebih pandai membangun geng daripada membangun percakapan.
Kita melihat lingkungan yang kadang terlambat hadir sebelum kekerasan meledak.
Kita melihat keluarga, sekolah, masyarakat, dan ruang digital yang barangkali terlalu sering mengajarkan menang, tetapi kurang mengajarkan menahan diri.
Mpu Sabak menatap jauh.
“Den, anak-anak tidak tiba-tiba menjadi keras. Kadang mereka hanya meniru dunia orang dewasa yang setiap hari mempertontonkan kekerasan dalam bentuk lain.”
Saya paham maksudnya.
Orang dewasa bertengkar di jalan karena tersenggol sedikit.
Orang dewasa mencaci di media sosial karena beda pilihan.
Orang dewasa merendahkan sesama karena beda kelas, beda barang, beda merek, beda gaya hidup.
Lalu kita terkejut ketika anak-anak menyelesaikan masalah dengan tangan, bukan dengan hati.
Padahal pendidikan moral tidak cukup diajarkan lewat slogan di dinding sekolah. Ia harus tampak dalam cara kita marah. Dalam cara kita menegur. Dalam cara kita menyelesaikan konflik kecil. Dalam cara kita berkata kepada anak-anak: “Tidak semua yang hilang harus dibayar dengan dendam.”
Sandal yang hilang bisa menjadi pelajaran tanggung jawab.
Tetapi sandal yang hilang tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menghilangkan masa depan seseorang.
Di sinilah perkara ini menjadi lebih besar daripada sebuah kasus kriminal. Ia menjadi tanda tanya kebudayaan. Kita hidup di zaman ketika benda-benda diberi merek, diberi harga, diberi gengsi. Tetapi manusia sering lupa diberi hormat. Anak muda diajari tampil keren, tetapi belum tentu diajari mengelola sakit hati. Anak muda diajari membela harga diri, tetapi belum tentu diajari bahwa harga diri tidak harus dibela dengan merendahkan nyawa orang lain.
Mpu Sabak kembali bicara:
“Harga diri yang harus dijaga dengan kekerasan, biasanya bukan harga diri. Itu hanya ego yang sedang memakai sepatu kebesaran.”
Saya tersenyum getir. Mpu Sabak memang kadang lucu. Tetapi lucunya selalu meninggalkan luka kecil di pikiran.
Kita tentu berharap hukum bekerja dengan jernih. Yang bersalah harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Yang menjadi korban harus memperoleh keadilan. Keluarga yang ditinggalkan harus mendapatkan kepastian. Tetapi setelah hukum bekerja, masyarakat juga tidak boleh selesai hanya dengan berkata, “Pelakunya harus dihukum.”
Sebab pertanyaan yang lebih dalam adalah: bagaimana mencegah anak-anak lain berjalan menuju gelap yang sama?
Rumah harus kembali menjadi tempat anak belajar meminta maaf, bukan sekadar meminta uang.
Sekolah harus menjadi tempat anak belajar menyelesaikan konflik, bukan hanya mengejar nilai.
Masyarakat harus berani melerai sebelum terlambat, bukan hanya merekam setelah kejadian.
Media sosial harus berhenti menjadikan kekerasan sebagai tontonan yang dibumbui komentar sadis.
Kita memerlukan generasi yang tahu bahwa keberanian bukan hanya berkelahi. Keberanian juga berarti menahan diri. Keberanian berarti berkata, “Sudah, cukup.” Keberanian berarti memilih pulang, ketika teman-teman mengajak maju ke arah kekerasan.
Mpu Sabak berdiri. Kopinya tinggal ampas.
Sebelum pergi, ia berkata pelan:
“Den, manusia boleh kehilangan sandal. Tapi jangan sampai kehilangan jalan pulang menuju kemanusiaannya.”
Saya mencatat kalimat itu.
Sebab mungkin itulah inti dari kabar duka ini. Yang hilang bukan hanya sandal. Yang hilang bukan hanya satu nyawa muda. Yang sedang diuji adalah nurani kita bersama.
Apakah kita masih sanggup membedakan antara harga barang dan harga hidup?
Apakah kita masih sanggup mengajari anak-anak bahwa menyelesaikan masalah tidak sama dengan melampiaskan amarah?
Apakah kita masih percaya bahwa manusia lebih berharga daripada benda yang dipakainya?
Semoga kepergian Thomas tidak berhenti sebagai berita viral. Semoga ia menjadi peringatan. Bahwa di atas segala merek, harga, gengsi, dan amarah, ada satu hal yang tidak boleh kita turunkan nilainya:
nyawa manusia.
Karena sandal hanya alas kaki.
Tetapi kemanusiaan adalah alas jiwa.
— DenEff