preloader

Siap. Berikut esai Membaca Zaman:

Mahasiswa Turun ke Jalan: Ketika Angka Ekonomi Menjadi Kegelisahan Manusia

Mahasiswa kembali turun ke jalan. Di Jakarta, 12 Juni 2026, aksi BEM UI dan sejumlah elemen mahasiswa menyoroti harga kebutuhan pokok, BBM, pemborosan APBN, program MBG, hingga militerisme di ranah sipil. Aksi ini diperkirakan melibatkan ribuan mahasiswa dan berdampak pada kepadatan kawasan Bundaran HI.  

Tetapi demonstrasi tidak pernah lahir hanya dari spanduk.

Ia lahir dari dapur yang mulai berhitung lebih keras. Dari orang tua yang menatap harga beras, minyak, telur, dan ongkos transportasi dengan napas lebih panjang. Dari anak muda yang gelisah: setelah kuliah, apakah masa depan masih menyediakan pintu, atau hanya antrean panjang menuju ketidakpastian?

Angka ekonomi sering terdengar dingin: rupiah melemah, harga naik, subsidi ditekan, anggaran membengkak. Tetapi di rumah-rumah kecil, angka itu berubah menjadi wajah. Wajah ibu yang mengurangi belanja. Wajah ayah yang pulang lebih diam. Wajah mahasiswa yang mulai bertanya: untuk siapa negara bekerja?

Jalan raya memang bisa macet beberapa jam karena demonstrasi. Tetapi yang lebih berbahaya adalah bila mobilitas sosial macet bertahun-tahun. Anak muda sekolah tinggi, tetapi pekerjaan sempit. Rakyat diminta sabar, tetapi pemborosan tetap berjalan. Publik diminta percaya, tetapi transparansi sering datang terlambat.

Maka suara mahasiswa tidak boleh buru-buru dianggap gangguan. Dalam sejarah bangsa ini, mahasiswa kerap menjadi alarm moral. Alarm memang berisik. Tetapi justru karena berisik, ia membangunkan orang yang sedang tertidur.

Negara yang sehat bukan negara yang bebas dari kritik. Negara yang sehat adalah negara yang tidak takut mendengar suara cemas rakyatnya.

Sebab ketika mahasiswa turun ke jalan, yang sebetulnya sedang berjalan bukan hanya barisan demonstran. Yang sedang berjalan adalah kegelisahan zaman.

Dan kegelisahan, bila tidak didengarkan, bisa berubah menjadi kemarahan.

Angka ekonomi boleh naik-turun. Tetapi harapan rakyat jangan sampai jatuh tanpa ada yang menangkapnya.

DenEff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *