preloader

Judul : Filosofi Catur (The Eight)

Penulis : Katherine Neville

Penerbit : Q Press (Kel. Penerbit Pustaka Hidayah)

Cetakan : 2007

ISBN : 9789791174329

Jenis : Novel

Format : Hard Cover

Tebal : 1182 Halaman, (12 x 19,5 x 6 cm), 0,5 Kg

Harga Normal: Rp 119.000



Seorang teman yang pandai bermain catur pernah mengatakan kepada saya, bahwa dalam permainan catur, hal yang terpenting adalah langkah “pembukaan”. Beberapa Pecatur dunia yang terkenal telah menemukan langkah-langkah strategi pembukaan yang mematikan. Apakah teori tersebut juga berlaku untuk buku ini?

Awalnya, saya sempat ragu untuk membeli novel ini. Ada beberapa hal, yang pertama soal waktu untuk membacanya sampai tuntas rasa-rasanya sulit terpenuhi, sebab tebalnya saja 1182 halaman, “ampun bo’”, menirukan anak saya.

Membaca narasi awal, saya menikmatinya, gaya bertuturnya renyah dan maknyus. Inilah yang membuat saya yakin bakal memenangkan pertandingan (membaca) ini hingga tuntas. Kisahnya yang menarik, meskipun maju mundur alur ceritanya, tapi tidak membuat saya kehilangan potongan-potongannya, padahal jumlah tokohnya banyak dan dengan rentang waktu kisah yang cukup panjang. Tidak membosankan, malahan justru banyak kejutan pada setiap akhir babak. Mungkin, karena ditulis seorang ahli komputer, yang notabene keahliannya tersebut menuntut si penulis “harus” selalu fokus, agar tidak kehilangan potongan kisahnya.

Novel ini diterbitkan tahun 1988 dengan judul asli “The Eight”, dan terjemahannya dengan judul “Filosofi Catur” baru diterbitkan tahun 2007. Banyak pujian diterima novel ini, sebagaimana tertera di halaman depan novel ini.

Satu set buah catur kuno, berikut papan permainan, dan kain penutupnya. Itulah warisan yang diperebutkan selama berabad-abad lamanya. Bukan sembarang “catur”, namun warisan tersebut sangat diyakini mempunyai “kesaktian” yang sangat luar biasa; “barang siapa memilikinya akan mampu memainkan sebuah permainan dengan kekuasaan tak terbatas.” Oleh karenanya, tidak mengherankan bila benda warisan tersebut harus disembunyikan dan diceraiberaikan untuk melindunginya, agar tidak mudah disatukan untuk menghindarkan dari cengkeraman tangan-tangan haus kekuasaan. Itulah inti kisahnya.

Seperti halnya buah catur, para tokoh dalam kisah ini pun merupakan representasi dua kekuatan, yakni: putih dan hitam. Mereka saling mengincar untuk mengalahkan. Banyak intrik-intrik muslihat yang terjadi membuat kisah ini sering mengejutkan.

Tebalnya buku bukanlah alasan untuk tidak membacanya, sebab saya yang semula enggan membacanya akhirnya tuntas juga.

By Effendi BP

DenEff adalah nama pena dari X.L. Effendi Budi P., penulis esai, novel, refleksi sosial, dan karya-karya prosa liris yang berangkat dari kehidupan sehari-hari, ingatan keluarga, dinamika masyarakat, iman, kepemimpinan, dan perubahan zaman. Melalui ruang kreatif Membaca Zaman, DenEff menulis untuk menangkap denyut kecil kehidupan yang sering luput dari perhatian: percakapan di rumah, kegelisahan orang biasa, luka sosial, humor sehari-hari, serta nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh di tengah zaman yang terus berubah. Gaya menulis DenEff cenderung reflektif, liris, hangat, dan kontemplatif. Ia percaya bahwa tulisan tidak selalu harus berteriak untuk didengar. Kadang, kalimat yang pelan justru lebih lama tinggal di hati pembaca. Selain menulis karya sastra dan esai, DenEff juga banyak mengolah tema kepemimpinan, keluarga, pelayanan, spiritualitas, dunia kerja, dan budaya produktif. Pengalaman panjangnya dalam pelayanan paroki, dunia usaha, serta pendampingan keluarga muda Katolik memberi warna khas pada tulisan-tulisannya: membumi, manusiawi, dan dekat dengan persoalan nyata. Bagi DenEff, menulis adalah cara sederhana untuk merawat ingatan, membaca tanda-tanda zaman, dan membagikan berkat melalui kata-kata. Tagline: Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *