
Ada sebuah pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri:
Mengapa hidup terasa semakin banyak, tetapi hati terasa semakin kurang?
Kita hidup di zaman yang serba berlimpah. Pilihan makanan lebih banyak daripada generasi orang tua kita. Telepon genggam di tangan kita lebih canggih daripada komputer yang dahulu dipakai untuk mengirim manusia ke bulan. Barang yang dulu dianggap mewah kini bisa dibeli dengan beberapa kali sentuhan layar.
Namun anehnya, keluhan tidak ikut berkurang.
Rumah sudah ada, ingin rumah yang lebih besar.
Motor sudah ada, ingin mobil.
Mobil sudah ada, ingin yang lebih baru.
Gaji naik, tetapi kebutuhan ikut naik.
Liburan sudah dilakukan, tetapi foto liburan orang lain tampak lebih menarik.
Seolah-olah ada ruang kosong di dalam diri yang tidak pernah benar-benar terisi.
Dulu, manusia membandingkan dirinya dengan beberapa orang di sekitarnya. Tetangga sebelah rumah. Saudara di kampung. Teman satu kantor.
Hari ini, kita membandingkan diri dengan seluruh dunia.
Saat membuka media sosial, dalam hitungan menit kita bisa melihat teman yang sedang berlibur ke Jepang, pengusaha yang baru membeli mobil mewah, selebritas yang sedang makan malam di restoran mahal, atau influencer yang tampaknya selalu bahagia.
Masalahnya bukan karena mereka salah.
Masalahnya, otak manusia tidak dirancang untuk menerima begitu banyak bahan perbandingan dalam satu waktu.
Akibatnya, hidup yang sebenarnya baik-baik saja perlahan terasa kurang istimewa.
Padahal, belum tentu orang yang kita lihat lebih bahagia daripada kita.
Foto hanya menampilkan senyum. Ia tidak menampilkan cicilan.
Video hanya menampilkan keberhasilan. Ia tidak menampilkan kegagalan.
Unggahan hanya menampilkan puncak gunung. Ia tidak menampilkan jalan terjal menuju ke sana.
Kita sering membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Tentu saja hasilnya tidak akan pernah adil.
Yang lebih berbahaya, rasa kurang itu sering menyamar sebagai kebutuhan.
Kita membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut tertinggal.
Kita mengejar sesuatu bukan karena menginginkannya, tetapi karena orang lain sudah memilikinya.
Sedikit demi sedikit, hidup kita tidak lagi dipimpin oleh kebutuhan, melainkan oleh perbandingan.
Padahal kebahagiaan memiliki sifat yang unik.
Ia jarang ditemukan ketika kita terus melihat ke atas.
Ia lebih sering ditemukan ketika sesekali kita melihat ke samping, bahkan ke bawah, lalu menyadari betapa banyak hal yang sebenarnya sudah kita miliki.
Masih bisa bangun pagi.
Masih bisa bekerja.
Masih memiliki keluarga yang menunggu di rumah.
Masih memiliki teman yang peduli.
Masih bisa tertawa.
Masih bisa berharap.
Hal-hal kecil itu sering kalah pamor dibandingkan barang-barang baru yang lalu-lalang di layar ponsel kita.
Padahal justru di sanalah sumber syukur itu berada.
Barangkali hidup kita tidak kekurangan apa-apa.
Barangkali yang kurang hanyalah jeda untuk menghitung berkat yang sudah ada.
Sebab sering kali, bukan hidup yang terlalu sedikit.
Melainkan mata kita yang terlalu sibuk melihat milik orang lain.
—-eff
👍👍👍