preloader

Di bawah langit Agustus,
bendera berkibar seperti halaman buku
yang belum selesai ditulis rakyatnya.

Kemerdekaan, katanya, sudah lama tiba.
Namun di jalan-jalan kecil,
orang masih belajar berjalan tanpa takut,
belajar berbicara tanpa dibungkam,
belajar berbeda tanpa saling mengusir.

Di rumah-rumah sederhana,
ibu-ibu menanak harapan
bahwa esok tidak lagi dihitung
dari berapa banyak yang harus dikorbankan
untuk sekadar hidup layak.

Di sekolah, anak-anak menggambar masa depan
dengan krayon yang warnanya lengkap—
merah untuk keberanian,
putih untuk kejujuran,
dan warna-warna lain
yang sering hilang dari layar berita.

Di masjid, gereja, pura, dan vihara,
doa-doa naik seperti burung yang mencari langit
tanpa bertanya siapa yang paling benar.
Karena kemerdekaan seharusnya
membuat setiap keyakinan
punya ruang untuk bernapas.

Dan di dada setiap rakyat,
berkobar api kecil
yang tidak pernah padam:
api yang mengingatkan
bahwa kemerdekaan bukan perayaan,
melainkan pekerjaan panjang
yang harus dilakukan bersama.

Selama masih ada yang lapar,
yang takut,
yang disisihkan,
maka kemerdekaan belum selesai.
Ia masih menunggu kita
menuliskan halaman berikutnya
dengan keberanian,
dengan toleransi,
dengan kesejahteraan
yang benar-benar merata.

—deneff

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *