Setiap Agustus
kita menaikkan Merah Putih
setinggi-tingginya,
sementara sebagian harapan
masih berjalan menunduk
di bawah meja kekuasaan.
Kita menyanyikan Indonesia Raya
dengan dada tegak,
tetapi ada mulut
yang harus mengecilkan suaranya
agar tidak dianggap
terlalu mencintai kebenaran.
Katanya, kita telah merdeka.
Namun kebebasan
kadang masih harus meminta izin.
Toleransi masih ditanya
agama dan alamat rumahnya.
Keadilan mengetuk banyak pintu,
tetapi sering disuruh menunggu
karena tidak membawa kartu nama.
Sementara kesejahteraan
terlihat gagah dalam pidato,
lalu pulang diam-diam
sebelum sempat singgah
di dapur rakyat.
Di pasar,
seorang ibu membagi uang belanja
menjadi kebutuhan-kebutuhan
yang sama-sama tak boleh dibeli.
Di pabrik,
keringat bekerja lembur
sedangkan upah
pulang lebih dahulu.
Di desa,
petani menanam harapan,
memanen tengkulak.
Di kota,
orang-orang tidur di trotoar
di bawah baliho besar bertuliskan:
Kemajuan untuk Semua.
Barangkali kemerdekaan
bukan sekadar bendera yang berkibar,
melainkan rakyat
yang tak gentar menyampaikan pikiran.
Bukan sekadar rumah ibadah yang berdiri,
melainkan doa-doa berbeda
yang tidak saling mencurigai.
Bukan sekadar angka pertumbuhan,
melainkan nasi hangat
yang benar-benar sampai
ke meja paling sederhana.
Maka jangan hanya meneriakkan
“Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
Sebab merdeka bukan kata benda
yang disimpan di museum sejarah.
Merdeka adalah kata kerja—
yang harus diperjuangkan setiap hari,
agar kebebasan tidak dibungkam,
toleransi tidak dikalahkan,
dan kesejahteraan
tidak hanya menjadi milik
mereka yang duduk paling dekat
dengan pembagian.
Indonesia memang telah merdeka.
Tetapi kemerdekaan
masih berjalan kaki,
mengetuk rumah demi rumah,
mencari rakyat
yang belum sempat merasakannya.
DenEff