Aku bicara pada dinding
dan dinding lebih jujur dari cermin,
sebab ia tak pura-pura mendengar.
Kita duduk berdampingan,
dua ponsel menyala,
dua kepala menunduk
seperti sedang berdoa
pada tuhan yang salah.
Kata-kata kutulis lalu kuhapus,
kuhapus lalu kutulis lagi —
begitu setia pada keraguan,
begitu takut pada suara sendiri.
Kota ini penuh mulut
tapi sepi telinga.
Setiap orang berteriak
tentang dirinya sendiri,
dan tak satu pun mendengar
gema yang mereka buat bersama.
Kesunyian bukan tak adanya suara.
Kesunyian adalah suara
yang tak pernah sampai
ke tempat yang seharusnya ia tuju.
—deneff