preloader

Sunyi itu punya nomor HP,
tapi tak pernah kuhubungi,
sebab aku takut ia menjawab
dengan suaraku sendiri.

Setiap malam kubuka pesan lama,
kubaca ulang kata “aku kangen”
yang kukirim ke seseorang
yang sudah lupa cara membaca.

Di grup WhatsApp keluarga
semua orang saling mengirim amin,
tapi tak ada yang benar-benar
menengok kabar siapa yang sakit.

Aku ini manusia empat kuota:
kuota bicara, kuota diam,
kuota rindu yang tak pernah habis,
dan kuota maaf yang selalu telat diisi ulang.

Katanya media sosial mendekatkan,
tapi kenapa aku merasa
seperti pindah rumah
ke apartemen sebelah hatiku sendiri?

Tuhan, kalau Kau memang Mahamendengar,
tolong dengarkan juga
orang-orang yang tak sempat bicara
karena sudah keburu dianggap baik-baik saja.

—www.deneff.my.id

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *