preloader

Hari Minggu adalah waktu yang baik untuk melihat manusia lebih dalam.

Bukan dari wajahnya.
Bukan dari pakaiannya.
Bukan dari kubu tempat ia berdiri.
Tetapi dari suara batin yang diam-diam masih ia jaga.

Di dunia wayang, Togog bukan tokoh yang biasanya dipuji. Tubuhnya buncit. Wajahnya dianggap lucu. Matanya melotot. Mulutnya mencuat. Ia bukan sosok gagah yang membuat orang kagum. Lebih dari itu, Togog sering berada di pihak yang salah. Ia bukan pengiring kebaikan seperti Semar dan para punakawan yang lain.

Karena itu, mudah sekali orang memandang Togog sebagai tokoh yang tidak penting. Sosok pinggiran. Pelengkap cerita. Bahkan mungkin bahan tertawaan.

Tetapi hidup sering menyimpan kejutan justru pada mereka yang diremehkan.

Simaklah Dialog bebas antara Togog, sang hamba, dengan Begasuksma, sang Pangeran:

B: Gog, ada perubahan dalam sifatmu yang suka berubah-ubah itu.
T: Kalau paduka melihatnya begitu, memang begitulah.
B: Jawabanmu tak menyenangkan aku! Aku tak paham.
T: Menyenangkan paduka bukanlah urusan hamba. Tugas hamba bagi Kerajaan mengharuskan hamba untuk bicara terus-terang. Dan bila itu tak menyenangkan paduka atau Baginda, hamba hanya akan bicara bila dititahkan.
B: Gog, kaulah penasihat tertua dan paling disayangi. Tugasmulah untuk berbicara kepada Raja.
T: Tapi beliau tak mau mendengarkan.
B: Itu tak usah kau risaukan, Gog.
T: Hamba tak bisa untuk tak merisaukannya. Baginda serakah, dan selalu begitu… Hamba tahu bahwa itu salah, dan bahwa hamba harus mendesak. Tapi hamba penakut, paduka. Ayah paduka begitu mudah memerintahkan hukum mati. Maka hamba hanya bicara sekali, lalu diam.
B: Gog, kau keterlaluan! Raja meminta nasihatmu, tapi ia tak harus menurutinya. Tugasmulah untuk patuh!
T: Hmm. Meskipun hamba hanya pelayan, hamba pun punya cita-cita, seperti orang lain: mengharapkan kehidupan sempurna di dunia dan setelah mati…

Dalam lakon tersebut, Togog tampil bukan sekadar pelayan yang patuh, melainkan seorang tua yang masih punya nurani. Ia bekerja pada penguasa yang serakah. Ia tahu tuannya salah. Ia tahu kerakusan itu akan membawa keruntuhan. Ia bahkan tahu bahwa seharusnya ia berbicara lebih keras. Namun ia juga mengakui satu hal yang sangat manusiawi: ia takut.

Di situlah Togog terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata.

Sebab tidak semua orang yang diam itu bodoh.
Tidak semua yang bertahan di lingkungan salah itu jahat.
Tidak semua yang tampak lemah itu kehilangan hati nurani.

Ada orang-orang yang setiap hari hidup di bawah sistem yang keras. Mereka tahu ada yang tidak beres. Mereka tahu ada ketidakadilan. Mereka tahu ada keserakahan. Tetapi mereka juga tahu risiko berbicara. Maka yang tersisa sering hanya kegelisahan yang dipendam sendiri.

Togog adalah cermin bagi mereka.

Ia tidak sempurna. Ia tidak gagah. Ia tidak menang. Tetapi ia masih bisa membedakan mana yang lurus dan mana yang bengkok. Dan di zaman apa pun, kemampuan untuk tetap mengenali kebenaran adalah sesuatu yang tidak kecil.

Kita hidup di masa yang sering terlalu cepat menilai. Yang lucu dianggap tidak serius. Yang jelek dianggap tidak layak didengar. Yang kalah dianggap pasti salah. Padahal sering kali, manusia yang paling jernih justru bukan mereka yang duduk di kursi tinggi, melainkan mereka yang terlalu lama menyaksikan kerakusan dari dekat.

Mungkin karena mereka sudah cukup sering melihat dunia mempermainkan banyak hal: kesetiaan, kejujuran, harapan, dan keadilan.

Hari Minggu ini, Togog mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan terlalu cepat menertawakan bentuk luar seseorang. Bisa jadi, di balik tubuh yang tak ideal, wajah yang tak menarik, dan nasib yang kalah, ada jiwa yang justru lebih bersih daripada mereka yang tampak mulia.

Mpu Sabak berbisik:
Tidak semua yang tampak buruk itu kehilangan cahaya. Kadang, justru merekalah yang masih diam-diam menyimpannya. 

www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *