preloader

Beberapa hari kemudian, Darma menemukan tiket kereta lama di sela buku.

Tiket itu sudah menguning.

Tujuannya: Porong–Surabaya.

Tanggalnya hampir tak terbaca.

Ia tersenyum.

Dulu, perjalanan sejauh itu terasa seperti memasuki dunia baru.

Sekarang, dunia bisa masuk ke genggaman melalui telepon kecil di saku.

Tetapi anehnya, hati manusia tidak selalu ikut menjadi lebih dekat.

Malamnya, Darma menunjukkan tiket itu kepada Mpu Sabak.

“Ini tiket lama.”

Mpu Sabak menerimanya.

“Dulu kau naik kereta untuk pergi ke suatu tempat.”

“Sekarang?”

“Sekarang kau perlu belajar pulang.”

Darma terdiam.

“Pulang ke mana, Mpu?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Ke dirimu yang tidak sibuk menjadi siapa-siapa.”

Di antara sunyi dan lampu teras, Darma mencatat:

“Perjalanan terjauh bukan menuju kota lain,

tetapi kembali kepada diri sendiri setelah terlalu lama menjadi milik banyak orang.”

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *