Beberapa hari kemudian, Darma menemukan tiket kereta lama di sela buku.
Tiket itu sudah menguning.
Tujuannya: Porong–Surabaya.
Tanggalnya hampir tak terbaca.
Ia tersenyum.
Dulu, perjalanan sejauh itu terasa seperti memasuki dunia baru.
Sekarang, dunia bisa masuk ke genggaman melalui telepon kecil di saku.
Tetapi anehnya, hati manusia tidak selalu ikut menjadi lebih dekat.
Malamnya, Darma menunjukkan tiket itu kepada Mpu Sabak.
“Ini tiket lama.”
Mpu Sabak menerimanya.
“Dulu kau naik kereta untuk pergi ke suatu tempat.”
“Sekarang?”
“Sekarang kau perlu belajar pulang.”
Darma terdiam.
“Pulang ke mana, Mpu?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Ke dirimu yang tidak sibuk menjadi siapa-siapa.”
Di antara sunyi dan lampu teras, Darma mencatat:
“Perjalanan terjauh bukan menuju kota lain,
tetapi kembali kepada diri sendiri setelah terlalu lama menjadi milik banyak orang.”