Keesokan sorenya, Darma sengaja pulang lewat stasiun.
Bukan karena harus naik kereta.
Hanya ingin melihat.
Stasiun sore selalu memiliki kesedihan yang rapi.
Orang datang.
Orang pergi.
Ada yang menunggu dengan gelisah.
Ada yang berpisah sambil pura-pura kuat.
Ada yang duduk sendirian memeluk tas, seolah seluruh hidupnya sedang dititipkan di sana.
Darma berdiri di dekat peron.
Melihat rel memanjang.
Dua garis besi itu tidak pernah bersentuhan, tetapi selalu berjalan berdampingan.
Malamnya, ia bercerita kepada Mpu Sabak.
Mpu Sabak tersenyum.
“Rel kereta itu seperti apa, Darma?”
“Seperti jalan.”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Seperti suami istri yang dewasa.”
Darma tertawa.
“Mpu ini ada-ada saja.”
Mpu Sabak menunjuk ke arah luar.
“Dekat tidak harus menempel.”
“Jauh tidak harus berpisah.”
“Yang penting tetap searah.”
Darma terdiam.
Ia teringat istrinya yang tidur pukul delapan.
Dirinya yang berjaga bersama malam.
Dua manusia yang berbeda irama, tetapi masih berjalan dalam arah yang sama.
Tanpa banyak berpikir, ia menuliskan kalimat yang datang:
“Cinta yang panjang bukan karena dua orang selalu sama, melainkan karena keduanya tetap memilih arah yang sama meskipun langkahnya berbeda.”