preloader

Ada orang yang pandai berbicara.

Ada pula yang pandai mendengar.

Yang pertama sering mendapat tepuk tangan.

Yang kedua sering pulang membawa pelajaran.

Konon, seorang kepala suku Indian berkunjung ke rumah sahabatnya di kota.

Saat mereka sedang menikmati makan malam, tiba-tiba kepala suku itu berhenti mengunyah.

“Tunggu… aku mendengar suara jangkrik.”

Sahabatnya tertawa.

“Mana mungkin? Di kota ini serangga sudah lama dibasmi.”

Namun kepala suku itu tetap berdiri. Ia berjalan perlahan, memiringkan kepala, menempelkan telinganya ke lantai, mengikuti arah suara yang hampir tak terdengar.

Beberapa saat kemudian ia merogoh kolong sebuah lemari.

Seekor jangkrik berada di telapak tangannya.

Sahabatnya terpana.

“Pendengaranmu luar biasa.”

Mereka kembali makan.

Tak lama kemudian, anak pemilik rumah pulang. Saat menaiki tangga, sebuah koin kecil terlepas dari sakunya dan jatuh ke atas karpet.

“Tadi ada koin yang jatuh,” kata pemilik rumah.

Kini giliran kepala suku yang tertawa.

“Aku tidak mendengar apa-apa.”

Mereka mencari bersama.

Benar saja.

Di anak tangga paling bawah tergeletak sebuah koin.

Kini mereka saling tersenyum.

Yang satu peka terhadap suara alam.

Yang satu lagi peka terhadap suara uang.

Cerita itu bukan tentang siapa yang pendengarannya lebih tajam.

Melainkan tentang apa yang selama ini memenuhi perhatian kita.

Kita hanya benar-benar mendengar apa yang kita anggap penting.

Seorang ibu bisa terbangun hanya karena suara batuk kecil anaknya.

Seorang mekanik bisa langsung mengenali mesin yang mulai bermasalah hanya dari dengung yang nyaris tak terdengar.

Seorang musisi mengetahui ada satu nada yang meleset, sementara penonton merasa semuanya baik-baik saja.

Seorang pemimpin yang baik bahkan mampu menangkap sesuatu yang tidak pernah diucapkan. Ia mendengar kelelahan dari cara seseorang menjawab. Ia membaca kegelisahan dari jeda yang terlalu panjang. Ia memahami bahwa tidak semua orang sanggup berkata, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Kepekaan tidak lahir karena telinga yang lebih tajam.

Kepekaan lahir karena hati yang memberi perhatian.

Saya pun pernah melakukan kesalahan yang sama.

Saya lebih mudah mendengarkan orang yang memiliki jabatan, gelar, atau pengalaman lebih tinggi.

Sementara suara dari mereka yang lebih muda, lebih pendiam, atau tampak biasa-biasa saja, sering kali hanya lewat begitu saja.

Padahal hidup beberapa kali mempermalukan saya.

Masukan terbaik justru datang dari seorang staf baru.

Ide paling sederhana datang dari orang yang hampir tidak pernah berbicara.

Dan pelajaran terbesar justru saya temukan dari mereka yang tidak pernah saya anggap sebagai guru.

Sejak itu saya belajar satu hal.

Jangan hanya mendengarkan orang penting.

Dengarkanlah setiap orang dengan sungguh-sungguh.

Sebab kita tidak pernah tahu, melalui siapa Tuhan menitipkan sebuah pelajaran hari ini.

Di zaman media sosial, semua orang berlomba agar didengar.

Semua ingin berbicara.

Semua ingin berkomentar.

Semua ingin menjadi pusat perhatian.

Akibatnya, ruang percakapan sering berubah menjadi arena saling memotong.

Padahal kebijaksanaan hampir selalu lahir dari mereka yang lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Bukan karena mereka kekurangan kata-kata.

Melainkan karena mereka memahami bahwa sebelum memberi jawaban, seseorang harus terlebih dahulu memahami pertanyaannya.

Mungkin itulah sebabnya kita diciptakan dengan dua telinga dan hanya satu mulut.

Barangkali itu cara Tuhan mengingatkan bahwa hidup ini lebih banyak membutuhkan telinga daripada pidato.

Sebab dengan berbicara, kita hanya mengulang apa yang sudah kita ketahui.

Namun dengan mendengarkan, kita diberi kesempatan mempelajari sesuatu yang belum pernah kita mengerti.

Dan sering kali, perubahan besar dalam hidup dimulai bukan dari kalimat yang kita ucapkan…

melainkan dari satu kalimat sederhana yang akhirnya benar-benar kita dengarkan.

utas.me/deneff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *