preloader

Malam itu terasa berbeda.

Tidak ada hujan.

Tidak ada angin.

Tidak ada suara kendaraan yang lewat terburu-buru.

Segalanya terasa tenang.

Terlalu tenang.

Seperti sebuah lagu yang tahu bahwa bait terakhirnya sudah dekat.

Istrinya sudah tidur sejak pukul delapan.

Rumah kembali sunyi.

Lampu teras menyala.

Gelas air putih berada di tempat yang sama.

Kursi di hadapannya kosong.

Tetapi malam itu Darma tahu, entah bagaimana caranya, bahwa ia tidak sedang menunggu percakapan biasa.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara itu datang.

Pelan.

Sangat pelan.

Namun lebih jelas daripada malam-malam sebelumnya.

Mpu Sabak muncul dari halaman.

Berjalan perlahan.

Tongkatnya menyentuh lantai teras.

Tok.

Tok.

Tok.

Lalu duduk.

Seperti biasa.

Dan justru karena semuanya begitu biasa, Darma merasakan sesuatu yang luar biasa.

Mereka tidak langsung berbicara.

Masing-masing membiarkan malam duduk bersama mereka.

Jam dinding berdetak.

Seekor cecak berbunyi dari sudut ruangan.

Daun mangga bergerak perlahan.

Seolah seluruh dunia sedang belajar diam.

Akhirnya Darma berkata:

“Mpu.”

“Ya?”

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

“Tanyakan.”

Darma menarik napas panjang.

Pertanyaan itu telah menemaninya sejak malam pertama.

Empat puluh enam bab.

Puluhan percakapan.

Ratusan kalimat.

Dan kini akhirnya keluar.

“Sebenarnya Panjenengan siapa?”

Mpu Sabak tersenyum.

Tidak terkejut.

Seolah sudah menunggu pertanyaan itu sejak lama.

Ia memandang jalan di depan rumah.

Lama sekali.

Sampai Darma mengira ia tidak akan menjawab.

Kemudian Mpu Sabak berkata pelan:

“Apakah itu masih penting bagimu?”

Darma terdiam.

Dulu, ya.

Sangat penting.

Ia ingin tahu.

Ia ingin memastikan.

Ia ingin memberi nama pada misteri itu.

Tetapi malam ini…

Entah mengapa pertanyaan itu terasa lebih ringan.

“Aku tidak tahu,” jawab Darma jujur.

Mpu Sabak mengangguk.

“Bagus.”

“Bagus bagaimana?”

“Karena manusia mulai dewasa ketika tidak semua misteri harus dibongkar.”

Darma tersenyum.

Mpu Sabak melanjutkan:

“Kalau kukatakan aku seorang guru, kau akan salah paham.”

“Kalau kukatakan aku seorang sahabat, itu juga tidak cukup.”

“Kalau kukatakan aku hanya seorang pengembara, itu juga belum tentu benar.”

“Maka siapa Panjenengan?”

Mpu Sabak menatap Darma.

Matanya teduh.

Sangat teduh.

Lalu ia berkata:

“Aku hanya seseorang yang datang ketika manusia mulai cukup sunyi untuk mendengar.”

Darma merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.

Bukan jawaban.

Bukan pula kekecewaan.

Melainkan ketenangan.

Seperti seseorang yang akhirnya berhenti mengejar.

“Mpu,” katanya pelan.

“Ya?”

“Mengapa Panjenengan datang kepadaku?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Karena setelah puluhan tahun mendengar suara dunia, akhirnya kau mulai mendengar suara hatimu sendiri.”

Malam kembali sunyi.

Tidak ada lagi pertanyaan.

Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan.

Darma memandang lelaki tua itu.

Lalu untuk pertama kalinya ia menyadari:

barangkali yang terpenting bukanlah siapa Mpu Sabak.

Melainkan apa yang telah ia bangunkan di dalam dirinya.

Mpu Sabak berdiri perlahan.

Mengambil tongkatnya.

Lalu berkata:

“Darma, ada pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Cukup dijalani.”

Tok.

Tok.

Tok.

Tongkat itu menyentuh lantai.

Dan malam itu, Darma tahu: pertemuan mereka hampir selesai.

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *