Mpu Sabak berdiri di ambang teras.
Lampu kecil di atas pintu menerangi separuh wajahnya.
Separuh lagi dibiarkan malam tetap menjadi malam.
Darma ikut berdiri.
Bukan untuk menahan.
Bukan untuk bertanya lagi.
Hanya karena ada perpisahan yang perlu dihormati dengan tubuh yang tegak.
“Mpu akan pergi?”
Mpu Sabak tersenyum.
“Sejak awal aku hanya mampir.”
“Ke mana?”
“Ke tempat orang-orang yang mulai terlalu ramai oleh hidupnya sendiri.”
Darma menunduk.
Ia ingin tertawa.
Ia juga ingin menangis.
Tetapi yang keluar hanya napas panjang.
“Mpu,” katanya pelan, “apakah kita akan bertemu lagi?”
Mpu Sabak memandangnya.
Lama.
Lalu menjawab:
“Saat kau lupa menjadi manusia.”
Darma tersenyum.
“Semoga jangan terlalu cepat.”
“Kalau terlalu cepat, berarti kau masih perlu banyak belajar.”
Mereka tertawa kecil.
Tawa yang sederhana.
Tawa dua orang yang tahu, tidak semua yang berharga harus dijelaskan sampai habis.
Mpu Sabak menuruni satu anak tangga.
Tongkatnya menyentuh lantai teras.
Tok.
Ia berhenti sebentar.
Lalu menoleh.
“Darma.”
“Ya, Mpu?”
“Jangan sibuk mencari siapa aku.”
Darma diam.
Mpu Sabak melanjutkan:
“Jagalah agar setelah pukul delapan, hatimu tetap punya ruang untuk mendengar.”
Darma merasakan matanya hangat.
Ia mengangguk.
Tidak berkata apa-apa.
Karena ada nasihat yang tidak perlu dijawab dengan suara.
Cukup dengan hidup.
Lalu Mpu Sabak berjalan pergi.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara tongkat itu makin jauh.
Makin pelan.
Makin tipis.
Sampai akhirnya lenyap di antara malam.
Darma tidak mengejar.
Ia hanya berdiri.
Melihat halaman yang kosong.
Pagar yang tetap tertutup.
Jalan yang tetap sepi.
Dan kursi yang perlahan kembali menjadi kursi biasa.
Beberapa lama kemudian, Darma duduk kembali.
Kursi di hadapannya kosong.
Namun untuk pertama kalinya, kekosongan itu tidak terasa sebagai kehilangan.
Ia membuka buku catatan.
Pada halaman terakhir ia menulis:
“Aku tidak pernah benar-benar tahu siapa Mpu Sabak.
Tetapi aku tahu mengapa ia datang.
Ia datang bukan untuk memberiku jawaban.
Ia datang agar aku tidak kehilangan kemampuan bertanya.”
Darma berhenti.
Lalu menambahkan:
“Sebagian guru tidak datang untuk dikenali.
Mereka datang hanya untuk menyalakan sesuatu,
lalu pergi sebelum kita menyembah cahayanya.”
Ia menutup buku itu.
Pelan.
Seperti menutup doa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Ada rapat yang tetap harus dihadiri.
Ada telepon yang tetap harus dijawab.
Ada teman yang sakit.
Ada teman yang menikahkan anak.
Ada kabar duka.
Ada kabar sukacita.
Ada hujan.
Ada panas.
Ada hari yang terasa ringan.
Ada hari yang terasa panjang.
Hidup tetap menjadi hidup.
Tidak berubah menjadi lebih mudah hanya karena seseorang telah belajar sedikit lebih bijaksana.
Tetapi Darma berubah.
Tidak banyak.
Tidak dramatis.
Tidak sampai membuat orang berkata bahwa ia menjadi manusia baru.
Ia tetap Darma.
Masih bekerja.
Masih kadang lelah.
Masih kadang ingin menjawab terlalu cepat.
Masih kadang ingin mengambil alih.
Masih kadang berharap lebih banyak dari yang seharusnya ia tuntut.
Tetapi kini ia lebih cepat sadar.
Dan mungkin, pada usia enam puluh empat tahun, itu sudah merupakan rahmat yang besar:
bukan menjadi tanpa salah,
melainkan menjadi lebih cepat kembali.
Suatu sore, Darma melihat seorang anak kecil berhenti di depan rumah.
Anak itu sedang belajar naik sepeda.
Rodanya masih bergoyang.
Kayuhannya belum mantap.
Beberapa meter kemudian ia jatuh.
Tidak keras.
Tetapi cukup membuatnya terkejut.
Darma hampir berdiri.
Hampir menolong.
Namun ayah anak itu yang berada tidak jauh dari sana hanya berkata:
“Ayo, coba lagi.”
Anak itu bangkit.
Mengusap lututnya.
Lalu mencoba lagi.
Dan kali ini ia melaju sedikit lebih jauh.
Darma tersenyum.
Entah mengapa, pemandangan sederhana itu terasa seperti seluruh isi buku catatannya diringkas menjadi satu adegan.
Hidup memang seperti itu.
Jatuh.
Bangun.
Belajar.
Mencoba lagi.
Malam harinya, setelah pukul delapan, Darma duduk di beranda.
Istrinya sudah tidur.
Lampu teras menyala.
Gelas air putih berada di meja.
Kursi di hadapannya kosong.
Tidak ada suara tongkat.
Tidak ada lelaki tua berblangkon.
Tidak ada pertanyaan baru.
Hanya malam.
Hanya sunyi.
Hanya hidup yang berjalan perlahan.
Darma membuka buku catatan.
Lalu menulis satu kalimat terakhir:
“Mpu Sabak mungkin telah pergi.
Tetapi pertanyaan-pertanyaannya tinggal,
seperti lampu kecil yang tidak memaksa malam menjadi siang,
hanya cukup agar aku tidak tersandung oleh diriku sendiri.”
Ia menutup buku catatan itu.
Lalu mematikan lampu ruang kerja.
Lampu teras tetap menyala.
Sebelum masuk kamar, Darma menoleh sekali lagi ke arah kursi kosong.
Ia tersenyum.
Lalu berkata pelan kepada malam:
“Aku baik-baik saja, Mpu.”
Tidak ada jawaban.
Dan memang tidak perlu.
Karena kali ini, ia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Di kamar, istrinya terlelap.
Darma berbaring di sampingnya.
Ia mengucapkan doa pendek.
“Terima kasih, Tuhan.
Untuk yang datang.
Untuk yang pergi.
Untuk yang belum kumengerti.”
Lalu ia memejamkan mata.
Di luar, malam tetap berjalan.
Di dalam rumah, napas kehidupan tetap berlanjut.
Dan di suatu tempat yang tidak perlu diketahui manusia, barangkali ada seorang pengembara tua yang tersenyum.
Karena seorang murid akhirnya berhenti mencari guru.
Dan mulai menjalani pelajarannya sendiri.
TAMAT.