Setiap Agustus kita kibarkan bendera,
lalu lupa menanyakan kabar rakyat yang lapar.
Merdeka katanya, tapi kenapa nasi
masih harus dicicil seperti utang di warung?
Aku menghitung tujuh puluh sekian tahun
dan kebebasan masih antre di depan pintu birokrasi,
minta ditandatangani, minta dilegalisir,
seolah dia pun butuh KTP untuk boleh hidup.
Toleransi, kita ucapkan dalam pidato,
kita pahat di gerbang sekolah,
tapi di pasar, di kolong jembatan, di kolom komentar,
ia masih dicurigai seperti pendatang haram.
Tuhan, katanya, mencintai keberagaman.
Tapi kenapa keberagaman sering disuruh diam,
disuruh mengalah, disuruh minggir dulu
biar yang mayoritas bisa lewat duluan?
Aku ingin menulis puisi yang gembira,
tentang bendera yang berkibar tanpa curiga,
tapi tanganku gemetar tiap kali ingat
ada yang masih tidur di trotoar kemerdekaan.
Merdeka itu ternyata bukan tanggal,
bukan upacara, bukan lomba panjat pinang.
Merdeka itu pekerjaan rumah
yang tak pernah selesai kita kerjakan.
Maka mari kita jemput dia pelan-pelan,
kemerdekaan yang entah kenapa belum juga pulang—
barangkali dia tersesat di antara janji-janji,
menunggu kita, dengan sabar, di depan pintu.