preloader

Aku menatap dedaunan sampai mereka berhenti menjadi dedaunan
dan mulai menjadi bukti—
setiap urat daun adalah jalan kecil
yang ditempuh cahaya untuk sampai pada sesuatu yang lebih besar dari cahaya.
Aku memuja dengan mata yang terlalu lapar,
mencari Tuhan di celah kulit kayu, di kepak sayap burung camar,
sampai suatu hari yang kutemukan hanya kesunyian
yang memakai wajah-Nya, tapi menolak menjawab.

Aku tidak mencari-Nya. Aku lari dari-Nya.
Aku membakar mataku sendiri supaya bisa melihat yang lain—
yang tak bernama, yang tak berbentuk kesalehan,
yang tak perlu dipuja, cukup dialami sampai habis.
Aku menyebut diriku pelihat,
tapi yang kulihat kebanyakan adalah pecahan diriku sendiri,
berserakan di jalan-jalan yang tak kukenal,
di kota-kota yang kudatangi hanya untuk pergi lagi.

Aku mendengar kalian berdua berteriak—
satu ke langit yang diam,
satu ke dalam diri yang berantakan.
Aku tidak punya keberanian sebesar itu.
Aku hanya bisa lepas, pelan-pelan,
dari ranting yang membesarkanku,
tanpa tahu apakah ini penyerahan atau pembebasan,
tanpa tahu apakah tanah yang menungguku di bawah
adalah kubur atau rumah.

Tapi barangkali begitu caranya bertahan—
tidak dengan menembus langit atau membakar diri,
melainkan dengan jatuh sejujur-jujurnya,
membiarkan angin menuliskan arahku,
dan percaya, tanpa perlu berteriak pada siapa pun,
bahwa bahkan kepasrahan
adalah salah satu bentuk kesaksian.

By eff

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *