preloader

luka ini belum juga hilang

masih membekas, dan tak elok dipandang

luka ini belum juga kering

ngilunya merusak emosi jiwa hingga garing

pagi ini luka ini kembali berulang

menyayat nyerinya bukan kepalang

menusuk uluhati hingga ubun-ubun

menggoyang tubuh terhuyung-huyung

semalam, anak lelakiku yang belum genap remaja

mendadak mencengkeram lengan ibunya dalam nyenyaknya

menenggelamkan wajahnya dibawah bantalnya

seakan wajah bengismu sudah dikelopak matanya

sekalipun aku bukan gambaran idealmu

tapi, kau tak harus membenciku

biarkan aku ambil jalanku, seperti kau meniti jalanmu

bukankah dermaga yang sama yang kita tuju?

janganlah kau kehilangan daya pesona dan persuasi kata-kata

hingga kau membabibuta begini rupa…

atas nama siapa lagi kemarahan ini kau persembahkan?

sekira Sang Maha yang hendak kau bela, bukankah Ia pasti Digdaya?

sekira yang merasa sang maha hendak kau junjung, mengapa mesti begini caranya?

atau jangan-jangan… ulah kau saja yang ingin naik surga dengan tiket murahan?

atau…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *