preloader

Sekar punika tiyang

(kembang itu manusia)


Budaya Jawa memandang setiap kembang bagaikan manusia;

tak terhitung kembang yang mekar setiap hari.

Namun, sedikit saja yang akhir (sempat) menjadi buah,

Selebihya hanya sebatas:

kuncup,

layu,

tersingkir sendiri-sendiri.


Artinya,

tidak setiap manusia bisa menjadi “manusia”;

banyak diantara mereka yang akhirnya:

kuncup,

layu,

dan tersingkir sendiri-sendiri.


(effendi bp, 9 september 1982)

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *