preloader

Hari Minggu adalah hari yang pas untuk rehat sejenak. Bukan buat kabur dari pekerjaan, tapi untuk bertanya lagi: sebenarnya untuk apa semua kesibukan ini kita jalani?

Di dalam Bhagavad Gita, ada ajaran yang sederhana tapi sangat dalam: manusia perlu menjalankan kewajibannya, tetapi tidak boleh diperbudak oleh hasilnya. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menggantungkan seluruh harga diri pada pujian, keuntungan, jabatan, atau kemenangan.

Ini bukan ajakan untuk bekerja asal-asalan. Justru sebaliknya. Orang yang tidak diperbudak oleh hasil biasanya bisa bekerja dengan lebih tenang dan jernih. Ia tidak gampang panik saat gagal. Tidak terlalu terlena saat berhasil. Ia tetap melangkah, karena yang dijaga bukan cuma hasil, tetapi juga ketenangan batinnya.

Di zaman ini, manusia sering diukur dari pencapaiannya. Berapa omzetnya. Berapa pengikutnya. Berapa asetnya. Seberapa cepat ia naik. Lama-lama, hidup terasa seperti perlombaan yang melelahkan. Kita bukan lagi bekerja untuk mengabdi, tetapi bekerja untuk membuktikan diri.

Bhagavad Gita mengingatkan: lakukan bagianmu. Jalankan tugasmu. Jaga tanggung jawabmu. Tapi jangan sampai jiwamu ikut dipertaruhkan pada hasil yang belum tentu sepenuhnya ada dalam kendalimu.

Sebab hidup tidak selalu memberi hasil sesuai dengan usaha yang kita tanam. Ada kerja keras yang belum langsung terlihat buahnya. Ada kebaikan yang tidak segera dihargai. Ada ketulusan yang bahkan disalahpahami. Tapi bukan berarti semuanya sia-sia.

Mungkin justru di situlah kedewasaan tumbuh: ketika kita tetap melakukan yang benar, meskipun belum mendapat tepuk tangan.

Hari Minggu ini, tidak ada salahnya berhenti sejenak dari segala hiruk-pikuk. Tarik napas. Tenangkan hati. Lalu bilang pada diri sendiri: besok aku akan bekerja lagi, tapi aku tidak mau kehilangan jiwaku.

Sebab pekerjaan adalah bentuk pengabdian. Hasil adalah anugerah. Dan ketenangan batin adalah kebebasan yang terlalu berharga untuk dijual murah.

Selamat Hari Minggu.
Semoga kita tetap bekerja dengan tekun, tetapi pulang kepada diri sendiri dengan hati yang teduh.

—eff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *