
.
Di setiap zaman, selalu ada anak muda yang tiba-tiba berdiri di depan sejarah.
Mereka tidak selalu datang dengan pakaian rapi. Tidak selalu membawa proposal. Tidak selalu bicara dengan kalimat yang disukai penguasa. Kadang mereka datang dengan rambut gondrong, tubuh kurus, suara serak, mata kurang tidur, dan keberanian yang melebihi ukuran usianya.
Tetapi anehnya, justru dari mulut mereka sering terdengar suara yang selama ini tertahan di dada rakyat.
Mpu Sabak pernah berkata pelan, sambil menepuk-nepuk lututnya:
“Den, anak muda itu kadang kurang sopan menurut telinga kekuasaan. Tetapi sering kali justru karena itulah ia masih jujur. Yang terlalu sopan kadang sudah lebih dulu belajar menyembunyikan luka.”
Saya terdiam.
Sebab sejarah bangsa ini memang sering digerakkan oleh anak muda yang dianggap mengganggu ketertiban. Padahal mereka sedang mengingatkan bahwa ketertiban tanpa keadilan hanyalah karpet tebal yang menutupi lantai retak.
Dulu ada Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan. Pada masa Orde Baru, Budiman dikenal sebagai salah satu aktivis muda yang ikut mendirikan Partai Rakyat Demokratik/PRD dan kemudian dipenjara karena aktivitas politiknya; ia mendapat vonis 13 tahun pada 1997 dan dibebaskan setelah perubahan politik Reformasi.
Ada pula Wiji Thukul. Seorang penyair rakyat. Bukan penyair salon. Bukan penyair yang menulis hanya untuk memoles kata-kata. Ia menulis dari keringat buruh, dari gang sempit, dari rumah-rumah kecil yang takut digusur, dari suara orang kecil yang sering dianggap tidak masuk dalam daftar tamu pembangunan. Wiji Thukul dikenal sebagai penyair-aktivis yang kritis terhadap kekuasaan, dan ia hilang sejak 1998.
Kini, dalam wajah zaman yang berbeda, muncul nama Tiyo Ardianto, Ketua BEM KM UGM periode 2025–2026. Ia diberitakan sebagai mahasiswa Filsafat UGM angkatan 2021 dan menjadi sorotan publik karena kritik-kritiknya terhadap kebijakan pemerintah, termasuk isu efisiensi anggaran dan program Makan Bergizi Gratis/MBG. Situs resmi UGM mencatat pada Februari 2025 BEM KM UGM mendesak Presiden meninjau ulang kebijakan efisiensi anggaran, terutama pemangkasan yang menyangkut pendidikan. Sejumlah media juga melaporkan bahwa Tiyo mendapat intimidasi atau teror setelah menyuarakan kritik terhadap MBG.
Tentu setiap zaman punya bahasanya sendiri.
Budiman dan kawan-kawan hidup di zaman ketika negara terlalu kuat, partai terlalu dibatasi, suara rakyat terlalu mudah dicurigai. Wiji Thukul hidup di zaman ketika puisi bisa dianggap lebih berbahaya daripada senjata. Tiyo hidup di zaman media sosial, ketika satu kalimat bisa viral, satu potongan video bisa dipuja, dihujat, dipelintir, lalu dijadikan bahan pengadilan moral oleh jutaan jempol.
Tetapi ada benang merah yang sama:
anak muda muncul ketika masyarakat mulai kehabisan saluran untuk mengeluh secara bermartabat.
Mpu Sabak menyeruput kopinya.
“Den, pemerintah itu jangan alergi pada anak muda yang cerewet. Justru yang berbahaya adalah anak muda yang sudah tidak mau bicara. Kalau anak muda diam karena puas, itu bagus. Tapi kalau diam karena takut, itu tanda zaman sedang sakit.”
Saya mengangguk.
Anak muda yang kritis memang tidak selalu benar. Mereka bisa berlebihan. Bisa memakai diksi yang menusuk. Bisa kurang sabar memahami rumitnya negara. Tetapi negara yang dewasa seharusnya tidak hanya sibuk mengukur kesantunan kritik, melainkan juga memeriksa: luka apa yang membuat kritik itu lahir?
Sebab teriakan anak muda sering kali bukan sekadar soal ego. Ia bisa menjadi bunyi dari perut yang lapar. Dari biaya kuliah yang mencekik. Dari lapangan kerja yang sempit. Dari ketimpangan yang makin terang. Dari rakyat yang melihat pejabat hidup seperti sedang berpesta di atas meja makan yang tidak semua orang diundang ke sana.
Budiman, Wiji Thukul, dan Tiyo tentu tidak sama. Mereka lahir dari ruang sejarah yang berbeda. Budiman masuk ke gelanggang politik formal. Wiji Thukul menjadi suara abadi justru karena tubuhnya hilang tetapi puisinya terus berjalan. Tiyo masih muda, masih sedang diuji oleh zaman, oleh panggung, oleh tepuk tangan, oleh hujatan, dan oleh kemungkinan-kemungkinan hidupnya sendiri.
Maka tulisan ini bukan untuk mengkultuskan siapa pun.
Sebab anak muda yang dipuja terlalu cepat bisa jatuh menjadi selebritas perlawanan. Dan anak muda yang dibenci terlalu cepat bisa kehilangan ruang untuk bertumbuh.
Yang perlu kita lihat bukan hanya orangnya, melainkan gejalanya.
Mengapa di setiap zaman selalu muncul anak muda yang berani berdiri di depan mikrofon sejarah?
Jawabannya sederhana tetapi menyakitkan: karena ada sesuatu yang belum beres.
Ketika keadilan sosial terasa jauh, anak muda akan bicara.
Ketika kebijakan publik terasa tidak mendengar, anak muda akan bergerak.
Ketika rakyat kecil merasa hanya menjadi angka dalam pidato, anak muda akan mencari kata yang lebih tajam daripada bahasa birokrasi.
Dan kekuasaan biasanya punya dua pilihan.
Pertama, mendengar.
Kedua, membungkam.
Pilihan pertama membuat negara bertambah dewasa.
Pilihan kedua membuat negara tampak kuat, tetapi sesungguhnya sedang menabung bara.
Mpu Sabak tertawa kecil.
“Penguasa yang bijak itu seperti orang tua yang mendengar anaknya protes. Tidak semua kata anaknya enak didengar. Tapi kalau langsung dibentak, anak itu bisa pergi dari rumah batinnya. Ia masih tinggal di alamat yang sama, tapi hatinya sudah pindah.”
Indah sekali kalimat Mpu Sabak itu.
Negara bisa saja masih memiliki rakyat secara administratif. Tetapi kalau rakyatnya merasa tidak didengar, negara kehilangan mereka secara batiniah.
Maka anak muda seperti Budiman pada zamannya, Wiji Thukul dengan puisinya, dan Tiyo dalam panggung hari ini, adalah semacam alarm. Kadang bunyinya mengganggu. Kadang nadanya tidak merdu. Kadang membuat orang tua politik sulit tidur.
Tetapi alarm memang tidak diciptakan untuk menyenangkan telinga. Alarm diciptakan agar orang bangun.
Dan bangsa yang bijak bukan bangsa yang mematikan alarm, melainkan bangsa yang bertanya: mengapa alarm ini berbunyi?
Di ujung percakapan, Mpu Sabak menatap saya lama.
“Den, setiap zaman punya anak mudanya sendiri. Tugas orang tua bukan mematahkan lidah mereka, tetapi menolong agar keberanian mereka bertemu dengan kebijaksanaan. Sebab keberanian tanpa kebijaksanaan bisa menjadi api liar. Tetapi kebijaksanaan tanpa keberanian hanya menjadi dupa di ruang rapat.”
Saya menutup catatan ini dengan rasa haru.
Sebab mungkin benar, anak muda adalah cara Tuhan mengingatkan sebuah bangsa agar tidak terlalu nyaman dengan kursinya.
Mereka datang membawa suara.
Kadang kasar.
Kadang puitis.
Kadang menyengat.
Kadang menyakitkan.
Tetapi selama suara itu lahir dari kepedulian pada manusia yang terinjak, jangan buru-buru menyebutnya kurang ajar.
Bisa jadi, di balik suara itu, zaman sedang berbisik:
“Dengarkanlah kami, sebelum diam kami menjadi putus asa.”
–deneff