Ketukan Setelah Pukul Delapan
Setiap malam, setelah istrinya tidur, Darma Atmaja tinggal sendirian bersama rumah yang perlahan menjadi sunyi.
Pukul delapan malam adalah batas yang hampir pasti.
Istrinya masuk kamar, membaca doa pendek, lalu tidur. Sementara Darma duduk di ruang kerja kecil di sudut rumah. Di meja ada buku catatan, pena, kalender lama, dan segelas air putih yang sering lupa diminum.
Ia tidak selalu menulis.
Kadang hanya diam.
Mengingat wajah orang-orang yang ditemuinya hari itu. Mendoakan teman yang sakit. Menyebut nama anak perempuannya yang jauh di luar negeri. Memikirkan anak lelakinya yang belum juga menikah. Mengulang percakapan kantor. Mengingat rapat alumni yang belum selesai. Lalu, entah mengapa, bertanya dalam hati:
“Sampai kapan aku harus terus menjadi orang yang siap?”
Malam itu hujan baru saja berhenti.
Dari luar terdengar suara tongkat mengetuk lantai teras.
Tok.
Tok.
Tok.
Darma mengangkat kepala.
Ia yakin pagar sudah dikunci.
Tetapi di depan pintu, seorang lelaki tua berdiri dengan tenang. Berblangkon lusuh. Bersarung. Memegang tongkat kayu. Wajahnya seperti orang yang sudah lama mengenal jalan pulang.
“Maaf,” kata lelaki tua itu.
“Saya mencari seseorang.”
Darma berdiri perlahan.
“Siapa, Mbah?”
Lelaki tua itu tersenyum.
“Seseorang yang terlalu sering dicari orang lain, sampai lupa mencari dirinya sendiri.”
Darma terdiam.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia mendengar nama yang kelak mengganggu seluruh sisa hidupnya.
“Mpu Sabak,” kata lelaki tua itu. “Lalu, siapa nama panjenengan?”
Bersambung besok