preloader

Mpu Sabak memandang rak buku.

Di sana ada foto keluarga.

Foto pernikahan.

Foto wisuda anak-anak.

Foto-foto reuni.

Foto-foto kepengurusan.

Foto-foto kegiatan.

Hampir semua menunjukkan Darma sedang tersenyum.

Mpu Sabak menunjuk salah satu foto.

“Itu kapan?”

“Sepuluh tahun lalu.”

“Bahagia?”

“Tentu.”

Mpu Sabak mengangguk.

Lalu menunjuk foto lain.

“Yang itu?”

“Tujuh tahun lalu.”

“Bahagia?”

“Tentu.”

Foto lain.

“Lima tahun lalu.”

“Bahagia?”

“Tentu.”

Mpu Sabak tersenyum.

“Lucu ya.”

“Apa?”

“Foto selalu berhasil menangkap senyum.”

“Lalu?”

“Jarang berhasil menangkap beban.”

Darma menatap foto-foto itu.

Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa setiap foto menyimpan cerita yang tidak terlihat.

Ada foto ketika ia sedang khawatir soal pekerjaan.

Ada foto ketika ibunya sakit.

Ada foto ketika ia sedang kecewa kepada seseorang.

Ada foto ketika ia merasa sangat lelah.

Tetapi di semua foto itu, ia tersenyum.

“Mpu, manusia memang harus kuat.”

“Benar.”

“Kalau tidak kuat, banyak orang kecewa.”

“Benar.”

Darma mengangguk.

Seolah menemukan pembenaran.

Tetapi Mpu Sabak melanjutkan:

“Masalahnya, banyak orang salah mengerti arti kuat.”

“Maksudnya?”

“Orang mengira kuat itu tidak pernah lelah.”

“Lalu?”

“Kuat itu berani mengakui bahwa dirinya lelah.”

Angin malam masuk dari jendela yang sedikit terbuka.

Darma menunduk.

Sudah lama sekali ia tidak mengucapkan kalimat itu kepada siapa pun.

Bahkan kepada dirinya sendiri.

Mpu Sabak berdiri.

“Sudah malam.”

“Mpu mau pulang?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku hanya berpindah tempat.”

Darma tertawa.

Ia mulai terbiasa dengan jawaban-jawaban aneh itu.

Sebelum melangkah pergi, Mpu Sabak berhenti di depan pintu.

Lalu berkata:

“Darma, ada perbedaan antara menjadi berguna dan menjadi tidak tergantikan.”

Darma mengangkat kepala.

“Apa bedanya?”

Mpu Sabak tersenyum.

“Orang yang berguna akan melahirkan banyak tangan baru.”

“Orang yang ingin tidak tergantikan akan mengerjakan semuanya sendiri.”

Lalu ia melangkah keluar.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara tongkat itu menjauh perlahan.

Dan malam itu, Darma tidak segera menulis.

Ia hanya duduk.

Menatap halaman kosong di buku catatannya.

Untuk pertama kalinya, halaman kosong itu tidak terasa sebagai sesuatu yang belum dikerjakan.

Melainkan sesuatu yang masih bisa diisi.

BERSAMBUNG…

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *