preloader

Ada satu makhluk kecil yang sering datang ketika manusia sudah berada di puncak kepasrahan.

Namanya nyamuk.

Ia tidak datang siang hari ketika kita masih gagah, masih sibuk, masih punya tenaga untuk menepuk meja, menepuk paha, atau menepuk jidat sendiri.

Tidak.

Nyamuk adalah makhluk malam.
Ia datang ketika lampu sudah dipadamkan.
Ketika doa sudah selesai.
Ketika selimut sudah ditarik sampai dada.
Ketika hati sudah berkata, “Tuhan, kuserahkan semuanya kepada-Mu.”

Lalu tiba-tiba terdengar suara itu.

Ngiiiiing….

Pendek, tipis, tetapi mampu membatalkan ketenangan batin.

Mpu Sabak pernah berkata, “Nak, jangan remehkan nyamuk. Ia kecil, tetapi sanggup membuat manusia saleh berubah menjadi pemburu.”

Saya tertawa, tetapi sambil waspada. Sebab ucapan itu benar adanya.

Betapa sering kita merasa sudah ikhlas menghadapi hidup, sudah memaafkan orang lain, sudah menerima kenyataan, sudah berdamai dengan masa lalu. Tetapi begitu seekor nyamuk berputar di dekat telinga, seluruh filsafat hidup langsung diuji.

Kita bangun.

Menyalakan lampu.

Menatap tembok.

Mencari musuh yang ukurannya tidak sebanding dengan emosi yang ditimbulkannya.

Dan anehnya, ketika lampu menyala, nyamuk itu menghilang. Seolah-olah ia punya ilmu kebatinan. Seolah-olah ia lulusan intelijen udara. Seolah-olah ia tahu bahwa manusia paling lemah bukan saat miskin, bukan saat kalah debat, tetapi saat mengantuk.

Begitu lampu dimatikan lagi, ia kembali.

Ngiiiiing….

Di situlah iman manusia memasuki babak tambahan.

Kita menarik selimut sampai telinga, tetapi kaki kepanasan.
Kaki dibuka sedikit, betis jadi sasaran.
Kipas angin diarahkan ke badan, masuk angin mengintai.
Semprotan anti-nyamuk dicari, ternyata habis.
Obat elektrik dipasang, listriknya mati.

Hidup memang penuh ironi kecil.

Namun mungkin, justru di situlah malam sedang mengajari kita sesuatu. Bahwa tidak semua gangguan hidup datang dalam bentuk besar. Ada yang datang sangat kecil, bersayap tipis, dan menyanyi dekat telinga.

Masalahnya bukan hanya nyamuk.
Masalahnya adalah kepala kita yang ikut berdengung.

Pikiran tentang tagihan.
Pikiran tentang pekerjaan.
Pikiran tentang pesan yang belum dibalas.
Pikiran tentang orang yang tadi siang bicara agak miring.
Pikiran tentang masa depan yang kadang lebih rajin datang daripada kantuk.

Nyamuk hanya pembuka acara.

Yang ramai sebenarnya adalah isi kepala kita sendiri.

Maka malam ini, bila ada suara kecil mengganggu sebelum tidur, hadapilah dengan tenang. Bila bisa ditepuk, tepuklah. Bila tidak bisa, maafkanlah sementara. Jangan sampai seekor nyamuk naik kelas menjadi masalah eksistensial.

Tarik selimut pelan-pelan.
Pejamkan mata lagi.
Bisikkan doa sederhana:

“Tuhan, jagalah tidurku.
Dan bila boleh, arahkan nyamuk itu ke tetangga yang lebih kuat imannya.”

Lalu tersenyumlah sedikit.

Sebab hidup yang berat pun kadang perlu ditutup dengan humor kecil.
Tidak semua malam harus diselesaikan dengan renungan besar.
Kadang cukup dengan bantal, selimut, doa singkat, dan harapan sederhana:

semoga nyamuk malam ini sedang puasa.


–utas.me/deneff

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *