preloader

Ada masanya orang rela membayar mahal untuk mengikuti seminar motivasi.

Gedung-gedung penuh.

Orang datang membawa buku catatan.

Mereka pulang dengan semangat baru.

Kalimat-kalimat inspiratif memenuhi dinding kantor dan ruang kerja.

Saat itu, seolah-olah dunia dapat diubah hanya dengan berpikir positif dan bekerja lebih keras.

Lalu zaman bergeser.

Media sosial datang.

Video pendek mengambil alih panggung.

Orang tidak lagi punya waktu mendengarkan ceramah tiga jam. Mereka ingin semuanya selesai dalam tiga menit, bahkan tiga puluh detik.

Lalu datang pandemi.

Virus yang tidak terlihat itu mengubah hampir seluruh kebiasaan manusia.

Cara bekerja berubah.

Cara belajar berubah.

Cara beribadah berubah.

Cara bertemu keluarga pun berubah.

Yang semula dianggap tidak mungkin, tiba-tiba menjadi kebiasaan baru.

Kini kita memasuki era kecerdasan buatan.

Orang bertanya kepada mesin.

Mesin menjawab.

Sebagian pekerjaan mulai berubah.

Sebagian profesi mulai bergeser.

Dan kita kembali berpikir bahwa inilah puncak peradaban.

Padahal sejarah mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Setiap zaman selalu merasa dirinya akan berlangsung selamanya.

Majapahit pernah begitu besar.

Kerajaan-kerajaan besar pernah tampak tak tergoyahkan.

Tetapi hari ini sebagian jejaknya tinggal batu bata yang terkubur di tanah.

Yang berubah ternyata bukan hanya kerajaan.

Bukan hanya teknologi.

Bukan hanya cara bekerja.

Yang berubah adalah panggungnya.

Pelakunya berganti.

Pemerannya berganti.

Penontonnya berganti.

Tetapi pertanyaan manusia tetap sama.

Bagaimana hidup yang baik?

Bagaimana mencintai keluarga?

Bagaimana membesarkan anak-anak?

Bagaimana menghadapi kehilangan?

Bagaimana menua dengan damai?

Bagaimana meninggalkan dunia dengan hati yang tenang?

Kecerdasan buatan mungkin akan terus berkembang.

Teknologi yang kita banggakan hari ini mungkin suatu saat akan menjadi barang museum.

Seperti mesin tik.

Seperti pager.

Seperti disket.

Seperti telepon umum.

Mungkin kelak AI pun akan digantikan oleh sesuatu yang hari ini belum memiliki nama.

Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah usang.

Kasih tidak pernah kedaluwarsa.

Kejujuran tidak mengenal versi pembaruan.

Kesetiaan tidak membutuhkan baterai.

Belas kasih tidak memerlukan jaringan internet.

Barangkali itulah yang patut kita renungkan.

Jangan terlalu sibuk mengejar setiap gelombang zaman sampai lupa menjaga apa yang tidak pernah berubah.

Karena pada akhirnya, setiap era memang memiliki panggungnya sendiri.

Namun manusia yang tetap memilih mengasihi akan selalu menemukan tempatnya di setiap zaman.

www.deneff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *