preloader

Untuk dr. Syenny Budi Handoko, Sp.M.

Dokter yang saya hormati,

Ada banyak hal yang baru kita sadari nilainya ketika perlahan mulai hilang.

Kita baru menyadari betapa berharganya cahaya ketika dunia mulai tampak redup. Kita baru menyadari betapa indahnya wajah orang-orang yang kita cintai ketika garis-garisnya mulai kabur. Kita baru menyadari bahwa melihat adalah sebuah anugerah ketika mata mulai bernegosiasi dengan gelap.

Beberapa waktu lalu, saya berada di titik itu.

Huruf-huruf yang biasa saya baca menjadi kurang bersahabat. Jarak yang dulu terasa dekat menjadi samar. Cahaya yang semestinya menerangi justru memantulkan silau yang mengganggu.

Sebagai manusia, tentu ada rasa khawatir. Ada pertanyaan-pertanyaan kecil yang diam-diam muncul di kepala. Akankah semuanya kembali seperti semula? Akankah saya bisa melihat dengan baik lagi?

Lalu Tuhan menghadirkan orang-orang yang bekerja melalui ilmu pengetahuan, ketekunan, dan belas kasih. Salah satunya adalah Dokter.

Hari ini saya menulis surat ini dengan hati yang penuh syukur karena hasil operasi katarak yang Dokter lakukan berjalan dengan baik.

Mungkin bagi dunia kedokteran, ini adalah satu tindakan medis di antara sekian banyak tindakan yang dilakukan setiap hari. Namun bagi seorang pasien, keberhasilan itu adalah sebuah peristiwa besar. Sebuah peristiwa yang mengembalikan banyak hal sekaligus.

Bukan hanya penglihatan.

Tetapi juga rasa percaya diri.

Kemandirian.

Semangat membaca.

Kegembiraan bekerja.

Dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana yang selama ini sering luput disyukuri.

Saya kembali dapat melihat wajah keluarga dengan lebih jelas.

Membaca dan melihat tulisan tanpa harus memicingkan mata.

Melihat warna langit sore.

Melihat daun-daun yang bergerak ditiup angin.

Melihat dunia yang ternyata masih begitu indah.

Semua itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi sesungguhnya hidup memang dibangun oleh hal-hal sederhana yang tidak sederhana nilainya.

Karena itu, melalui surat ini saya ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada Dokter.

Terima kasih atas ketelitian yang membuat saya merasa aman.

Terima kasih atas profesionalisme yang menumbuhkan kepercayaan.

Terima kasih atas kesabaran yang menenangkan kegelisahan pasien.

Dan terima kasih karena telah menjadi bagian dari cerita kecil tentang seseorang yang kembali menemukan cahaya.

Sebagai orang yang gemar menulis, saya percaya bahwa ada profesi yang bekerja dengan kata-kata, ada yang bekerja dengan angka, ada yang bekerja dengan mesin, dan ada pula yang bekerja dengan harapan.

Dokter termasuk di antaranya.

Setiap hari, Dokter membantu banyak orang mendapatkan kembali apa yang hampir hilang. Bukan hanya penglihatan, tetapi juga harapan untuk menjalani hidup dengan lebih baik.

Kiranya Tuhan senantiasa memberkati setiap langkah pengabdian Dokter.

Semoga tangan yang telah membantu banyak orang melihat dunia dengan lebih terang selalu diberi kesehatan.

Semoga hati yang melayani tidak pernah kehilangan sukacita.

Dan semoga setiap kebaikan yang telah Dokter taburkan kembali dalam bentuk berkat yang berlimpah.

Hari ini saya melihat lebih jelas.

Dan karena itu, saya juga melihat lebih jelas satu hal:

Bahwa di balik keberhasilan sebuah operasi, ada ilmu, ketekunan, pengalaman, doa, dan dedikasi seorang dokter yang bekerja dengan sepenuh hati.

Terima kasih, Dokter.

Karena telah membantu mata saya kembali menemukan cahaya.

Hormat dan syukur saya,

www.DenEff.my.id

By DenEff

DenEff—nama pena dari X.L. Effendi Budi P.—menulis seperti seseorang yang berjalan pelan di tepi zaman, memunguti serpihan cerita yang jatuh dari meja kehidupan: tawa yang tertahan, luka yang tak sempat dirawat, doa yang tak bersuara, dan ingatan keluarga yang terus memanggil pulang. Ia percaya bahwa kata-kata adalah lampu kecil: tidak mengusir seluruh gelap, tetapi cukup untuk menemukan jalan pulang. Dalam setiap esai, novel, dan prosa lirinya, DenEff menenun humor halus, keheningan batin, dan tanda-tanda zaman menjadi jalinan yang menghangatkan manusia. Menulis baginya adalah ibadah sunyi—cara merawat memori, meneguhkan sesama, dan menghadirkan berkat dalam bentuk paling sederhana: sebuah kalimat yang tinggal lama di hati. Hidup untuk menjadi berkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *