
Negeri ini sedang gaduh.
Bukan karena jin baru belajar keluar dari botol, tetapi karena banyak orang mendadak lupa siapa yang dulu membuka tutupnya.
Di dalam botol itu rupanya tersimpan banyak perkara: uang, emas, kuasa, hukum, persepsi, dan beberapa lembar skenario yang belum sempat ditandatangani sutradara. Begitu tutupnya terlepas, asap hitam mengepul ke mana-mana. Semua orang batuk. Namun anehnya, masing-masing menunjuk hidung orang lain.
Mpu Sabak datang sebelum pukul delapan malam. Ia duduk di beranda sambil meniup kopi yang sebenarnya sudah dingin.
“Jin itu milik siapa, Mpu?” tanya saya.
Mpu Sabak tersenyum.
“Di negeri ini, Den, jin tidak pernah punya pemilik ketika sedang mengamuk. Tetapi ketika masih bisa disuruh-suruh, banyak orang mengaku sebagai tuannya.”
Saya tertawa kecil, meski tidak benar-benar lucu.
Hari-hari ini hukum tampak seperti panggung besar. Lampunya terang. Mikrofonnya banyak. Para pemain muncul bergantian membawa map, data, tuduhan, dan wajah paling serius yang mereka miliki.
Yang satu mengaku sedang membersihkan.
Yang lain merasa sedang dibersihkan.
Yang satu membuka perkara.
Yang lain membuka perkara lama.
Rakyat yang menonton akhirnya bingung: ini penegakan hukum, pertunjukan sulap, atau pertandingan saling membuka lemari?
“Kalau semua mengaku membersihkan,” kata saya, “mengapa ruangan ini semakin berdebu?”
Mpu Sabak mengangkat cangkirnya.
“Karena sebagian orang membersihkan meja sambil menyapu kotorannya ke bawah karpet.”
Di negeri yang sehat, hukum mengejar kesalahan. Di negeri yang sedang demam, hukum kadang baru berlari ketika kepentingannya tersenggol.
Maka perkara datang seperti sinetron. Ada episode penggeledahan. Ada adegan penyitaan. Ada konferensi pers. Ada bantahan. Ada bocoran. Ada tokoh baru yang muncul tepat ketika penonton mulai bosan.
Satu cerita, banyak sutradara.
Satu panggung, terlalu banyak pemeran utama.
Dan kebenaran? Ia masih menunggu di belakang panggung karena namanya tidak tercantum dalam susunan acara.
Mpu Sabak menatap asap kopi yang semakin tipis.
“Jin itu tidak terlalu berbahaya,” katanya.
“Lho?”
“Yang berbahaya adalah manusia yang memeliharanya, lalu pura-pura terkejut ketika ia tumbuh besar.”
Saya terdiam.
Barangkali benar. Jin bernama keserakahan tidak lahir dalam semalam. Ia dibesarkan sedikit demi sedikit: oleh pembiaran, persekongkolan, transaksi gelap, ketakutan, dan kebiasaan saling menyimpan rahasia.
Selama jin itu bekerja untuk kepentingan sendiri, ia disebut kawan.
Ketika berbalik menyerang, ia disebut ancaman negara.
Lalu semua berebut menjadi pahlawan, seolah tidak pernah ikut memberinya makan.
“Siapa yang bisa memasukkannya kembali ke dalam botol?” tanya saya.
Mpu Sabak berdiri dan membetulkan sarungnya.
“Bukan mereka yang paling keras berteriak,” jawabnya. “Melainkan mereka yang tangannya bersih dan tidak takut bila semua lampu dinyalakan.”
Ia lalu berjalan pulang, meninggalkan kalimat yang terus terngiang:
Jin memang sudah keluar dari botol.
Tetapi negeri ini tidak akan benar-benar celaka karena jin beterbangan di udara.
Negeri ini celaka ketika rakyat mulai menganggap asapnya sebagai udara biasa.
__utas.me/deneff