Suatu malam, Darma menelepon seorang teman lama.
Namanya Sutrisno.
Dulu mereka sangat dekat.
Lalu hidup membuat mereka hanya saling melihat melalui foto profil dan ucapan selamat hari raya.
Telepon tersambung.
“Halo, Tris. Apa kabar?”
Di seberang sana terdengar hening beberapa detik.
Lalu suara pelan.
“Baik, Dar.”
Darma hampir menjawab seperti biasa.
Syukurlah.
Tetapi ia ingat tulisan malam sebelumnya.
“Jangan terlalu percaya pada kalimat ‘aku baik-baik saja’ sebelum mendengar bagaimana ia diucapkan.”
Maka Darma diam sebentar.
Lalu bertanya lagi.
“Tris, sungguh baik?”
Hening.
Lebih panjang.
Lalu terdengar napas yang berat.
“Dar,” kata Sutrisno pelan, “aku sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.”
Malam itu, Darma hampir memberi nasihat.
Kalimat pertama sudah keluar: “Kamu harus kuat, Tris.”
Tetapi begitu mendengar napas berat di seberang sana, Darma berhenti. Ia sadar, kalimat itu benar, tetapi belum tentu dibutuhkan.
“Maaf,” kata Darma pelan. “Aku dengarkan dulu.”
Setelah itu ia tidak lagi memotong.
Tidak mengutip pengalaman.
Ia hanya mendengarkan.
Tentang anak yang kehilangan pekerjaan.
Tentang biaya berobat istri.
Tentang rasa malu meminta bantuan.
Tentang lelaki tua yang merasa gagal karena tidak sanggup lagi menjadi kuat.
Setelah telepon ditutup, Darma duduk lama sekali.
Tok.
Tok.
Tok.
Mpu Sabak datang.
“Berat?” tanyanya.
Darma mengangguk.
“Aku tidak tahu harus berkata apa.”
Mpu Sabak tersenyum.
“Kadang telinga yang hadir lebih menyembuhkan daripada mulut yang sibuk memberi jawaban.”
Pena itu bergerak pelan di tangan Darma: “Mendengarkan adalah bentuk kasih yang tidak perlu banyak kata.”